Gen Orang Tua Terbukti Wariskan Kesehatan Mental pada Anak
Materi genetik serta pola asuh dari orang tua terbukti mampu memengaruhi kondisi kesehatan mental anak di masa depan. Profil genetik ayah dan ibu saling berkaitan dengan anak dalam membentuk kesejahteraan psikologis yang baik.
Fakta tersebut diungkapkan dalam studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health, seperti dilansir dari HaiBunda.
Penelitian dari Universitas Oslo memberikan sudut pandang baru mengenai pembentukan lingkungan tumbuh kembang anak. Kecenderungan genetik orang tua memengaruhi cara mereka berperilaku, merespons stres, berinteraksi, dan menerapkan pola asuh di rumah.
Faktor-faktor ini yang kemudian memengaruhi tingkat kecemasan, stres, hingga depresi pada anak. Pewarisan genetik ini juga menjadi landasan bagi anak dalam mengatur emosi, menghadapi keseharian, serta bersosialisasi.
Razieh Chegeni dari Pusat Penelitian PROMENTA memimpin studi ini dengan melibatkan lebih dari 9.314 keluarga. Tim peneliti menganalisis data genetik, kebiasaan, serta pola asuh yang telah diuji pada studi kohort sebelumnya, sebagaimana dikutip dari News Medical & Life Sciences.
"Temuan yang paling menarik adalah bahwa gejala kecemasan dan depresi pada anak-anak tampaknya tidak hanya terkait dengan kecenderungan genetik mereka sendiri. Profil genetik orang tua juga tampaknya berperan," kata Razieh Chegeni.
Dampak dari kombinasi gen dan lingkungan rumah ini bersifat dinamis. Hubungan tersebut ditemukan jauh lebih kuat saat anak menginjak usia 14 tahun dibandingkan ketika masih berusia 8 tahun.
Pengaruh genetik terhadap kebiasaan ibu dan kesejahteraan psikologis ayah terlihat sangat menonjol dalam membentuk lingkungan keluarga. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan instrumen untuk memprediksi kondisi mental anak secara individu.
Data riset menunjukkan faktor genetik ini hanya memengaruhi sekitar 2,7 persen variasi gejala depresi dan 1,2 persen variasi kecemasan.
“Gen bukanlah satu-satunya penentu. Temuan ini tidak dimaksudkan untuk memprediksi kesehatan mental tiap anak, melainkan untuk memberikan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana risiko dapat diwariskan antar generasi,” kata Razieh Chegeni.