Jannik Sinner Pertahankan Gelar Juara Tunggal Putra Wimbledon 2026

Share

Petenis nomor satu dunia Jannik Sinner berhasil mempertahankan gelar tunggal putra Wimbledon setelah menundukkan Alexander Zverev melalui laga ketat empat set dalam babak final di All England Club pada Minggu (12/7/2026). Kemenangan ini membawa atlet berusia 24 tahun tersebut menjadi pria ke-10 dalam Open Era yang mampu mempertahankan mahkota juara di turnamen Grand Slam lapangan rumput London tersebut. Keberhasilan ini sekaligus menandai gelar Grand Slam kelima bagi Sinner setelah sebelumnya sempat melewati hadangan berat lima set di babak pertama melawan Miomir Kecmanovic.

"This one means a lot because it was a tough one after Paris, again," ujar Jannik Sinner, juara bertahan Wimbledon.

Sinner sempat diragukan setelah menelan kekalahan mengejutkan di putaran kedua Prancis Terbuka dari petenis Argentina Juan Manuel Cerundolo beberapa waktu lalu. "Last year was also tough. But coming here, I tried to put myself in the best position to be as competitive as possible," kata Jannik Sinner.

Ia menambahkan bahwa timnya telah menghabiskan banyak waktu dan pengorbanan demi mencapai performa terbaik di turnamen ini. "We put in a lot of long days, sacrificing a lot to be in this position," tutur Jannik Sinner.

Pelatih Sinner, Darren Cahill, turut mengapresiasi daya juang anak asuhnya yang mampu bangkit dari momen-momen sulit selama musim ini. "There have been a few kicks in the stomach along the way. Tough losses.

What makes us most proud is the way he comes back," kata Darren Cahill, pelatih Jannik Sinner. Cahill menjelaskan bahwa mentalitas tersebut merupakan bagian penting dari kepribadian Sinner di dalam maupun di luar lapangan.

"It doesn't put him down for long. That's his attitude in tennis and in life," ujar Darren Cahill.

Tim pelatih selalu menekankan pentingnya ketahanan fisik dan mental agar Sinner bisa kembali dengan performa yang lebih kuat. "We spoke about his resilience, and being able to come back and be bigger, stronger and faster whenever he has a bad moment," tutur Darren Cahill. Menurut Cahill, momen-momen sulit justru menjadi sarana penting bagi proses pendewasaan karier petenis asal Italia tersebut.

"If you don't have those tough moments, maybe you never grow like he has been able to," kata Darren Cahill.

Mantan petenis nomor satu Inggris, Tim Henman, memberikan pujian atas performa Sinner melalui siaran BBC TV setelah laga final berakhir. "A worthy champion, an incredible defence of his title. As the great players do, they find the way to win," kata Tim Henman, mantan petenis Inggris.

Henman menilai bahwa level permainan yang ditunjukkan Sinner saat menghadapi Novak Djokovic di semifinal dan Zverev di final merupakan kelas dunia. "Sinner's performances against Djokovic and Zverev have been truly world class," ujar Tim Henman.

Mantan juara Wimbledon, Marion Bartoli, juga menyamakan ketangguhan Sinner dengan salah satu legenda tenis dunia melalui BBC Radio 5 Live. "I think we have seen the new Novak Djokovic for the next 10-15 years," kata Marion Bartoli, mantan juara Wimbledon. Bartoli terkesan dengan kemampuan Sinner dalam menghadapi tekanan besar sepanjang pertandingan puncak tersebut.

"The way he was able to weather the storm when he had to, come up with an extraordinary shot when he had to, it reminds me so much of Djokovic," tutur Marion Bartoli.

Berdasarkan data statistik ATP Tour, Sinner telah memenangi 44 dari 47 pertandingan sepanjang tahun ini, serta mencatatkan 77 kemenangan dari 83 laga sejak memulai rangkaian gelar 12 bulan lalu. Kekalahan ini membuat Zverev gagal meraih gelar major pertamanya, namun ia akan naik ke peringkat dua dunia pada hari Senin menggantikan Carlos Alcaraz yang sedang cedera.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author