Tren Match My Freak Dominasi Kencan Gen Z, Pakar Ingatkan Fondasi Hubungan

Share

Istilah 'match my freak' kini tengah menjadi tren baru yang populer di kalangan Gen Z dalam mencari pasangan kencan. Banyak anak muda menggunakan tren ini untuk menemukan pasangan yang memiliki kepribadian, selera humor, hingga kebiasaan unik yang serupa. Cara ini dinilai memberikan warna baru agar komunikasi terasa lebih nyambung dibandingkan hanya melihat kesamaan hobi atau latar belakang.

Seperti dilansir dari Wolipop, istilah ini mulai dikenal luas setelah lagu Nasty milik penyanyi Tinashe viral pada tahun 2024.

Ungkapan tersebut kemudian berkembang di media sosial untuk menggambarkan keinginan menemukan seseorang yang bisa menerima sisi unik mereka. Dalam konteks tren tersebut, kata 'freak' merujuk pada karakter khas atau kebiasaan tidak biasa, bukan sesuatu yang bermakna negatif.

Fenomena ini muncul karena budaya kencan modern melalui aplikasi daring dinilai semakin membosankan dengan topik percakapan yang seragam. Menemukan seseorang yang memiliki frekuensi serupa dianggap mampu membuat hubungan terasa lebih menyenangkan sejak awal.

Meskipun kesamaan kebiasaan unik bisa membangun kedekatan awal, pakar hubungan dari eharmony, Susie Kim, menyarankan hal itu tidak menjadi prioritas utama. Menurut Susie Kim, hubungan jangka panjang justru lebih banyak ditentukan oleh kualitas karakter yang jauh lebih mendasar. Faktor penentu tersebut meliputi kedewasaan emosional, kemampuan komunikasi yang baik, penyelesaian konflik secara sehat, serta komitmen bersama.

Susie Kim juga mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru mengabaikan calon pasangan hanya karena tidak langsung merasa cocok di awal.

Banyak pasangan tetap bisa hidup bahagia dalam waktu lama meskipun memiliki hobi, minat, atau kepribadian yang berbeda.

Hasil Penelitian tentang Kecocokan Pasangan

Pandangan para pakar ini diperkuat oleh penelitian dari Northwestern University pada tahun 2017 yang menganalisis lebih dari 400 studi kecocokan.

Hasil riset membuktikan bahwa kesamaan sifat, minat, maupun karakter unik tidak dapat memprediksi keberlangsungan suatu hubungan. Sebaliknya, rasa aman secara emosional, pola komunikasi sehat, dan kesamaan tujuan hidup menjadi fondasi kuat untuk hubungan jangka panjang.

Selain itu, Susie Kim menyarankan agar seseorang tidak terburu-buru menunjukkan seluruh sisi pribadi dan kerentanan saat baru mengenal seseorang. Hubungan yang sehat seharusnya berkembang secara bertahap seiring dengan meningkatnya rasa saling percaya dan pemahaman satu sama lain.

Gen Z disarankan untuk tetap mengutamakan kecocokan nilai hidup, tujuan masa depan, dan cara menghadapi konflik agar hubungan dapat berjalan langgeng.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author