Bank Indonesia Guyur Likuiditas Operasi Moneter Rp1.000 Triliun
Bank Indonesia menggelontorkan likuiditas operasi moneter mencapai Rp1.000 triliun hingga akhir Juni 2026 untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat akibat tekanan eksternal kebijakan Federal Reserve.
Langkah penanganan intervensi pasar 24 jam ini diperkuat lewat koordinasi lintas lembaga antara DPR RI, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Dewan Ekonomi Nasional. Selain itu, bauran kebijakan moneter tersebut berhasil menarik arus modal asing masuk senilai USD9 miliar ke instrumen domestik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa gejolak pasar dipicu oleh sikap bank sentral Amerika Serikat yang menolak menurunkan suku bunga acuan setelah indeks dolar Amerika Serikat melonjak dari level 95 ke 101 pada akhir Juni.
"Kombinasi sinyal hawkish pejabat The Fed dan menguatnya DXY ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir membuat mata uang sejumlah ne…" kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Executif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.
Tekanan ini direspons oleh Bank Indonesia dengan memastikan kehadiran penuh bank sentral di berbagai lini transaksi keuangan lewat pasar spot dan pasar forward.
"Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Bank Indonesia seperti biasa akan all out untuk bagaimana menjaga rupiah itu tetap stabil dengan kecenderungan menguat," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.
Sikap hawkish dari bank sentral Amerika Serikat tersebut juga memicu proyeksi perubahan arah suku bunga global ke depan.
"Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi.
Menghadapi kedinamisan pasar, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjalankan pengawasan dan intervensi secara berkelanjutan.
"(Dalam) 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan bahkan akhir tahun itu kan perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh sebab itu yang saya sampaikan tadi bahwa Bank Indonesia All Out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa Rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan membuat Rupiah itu membangun," tambah Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengambil langkah mempertahankan suku bunga acuan serta meningkatkan remunerasi bagi dana pemerintah di bank sentral menjadi di atas BI Rate dari aturan sebelumnya yang sebesar 80 persen.
"Kami terus berkoordinasi pusat dan daerah menjaga inflasi karena harga global naik," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Langkah strategis ini turut mendapat sorotan dari media bernas.id yang menilai keputusan tersebut mencerminkan strategi matang dalam menghadapi tekanan pelemahan rupiah.
"Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mempertahankan suku bunga di tengah tekanan rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Keputusan ini mencerminkan strateg" tulis bernas.id.
Langkah mitigasi ekonomi ini didukung penuh oleh DPR RI melalui pelaksanaan rapat koordinasi lintas lembaga.
"Hari ini kami mengadakan rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini," ujar Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI.
Pemerintah bersama Dewan Ekonomi Nasional terus memantau dampak gejolak global ini demi menjaga daya beli masyarakat di dalam negeri.
"Yang paling penting adalah menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek karena dampak ketianyataan global sudah mulai terasa terhadap inflasi dan daya beli masyarakat," kata Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua DEN.