Argentina Imbangi Swiss 1-1 dalam Perempat Final Piala Dunia 2026
Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara juara bertahan Argentina melawan Swiss berakhir dengan skor imbang 1-1 selama waktu normal di Stadion Arrowhead, Kansas City, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Alexis Mac Allister mencetak gol pembuka untuk Argentina pada menit ke-10 setelah memanfaatkan umpan sepak pojok dari Lionel Messi. Swiss kemudian berhasil menyamakan kedudukan melalui gol Dan Ndoye di babak kedua.
Laga ini diwarnai insiden kartu merah pada menit ke-72 ketika penyerang Swiss, Breel Embolo, diusir oleh wasit asal Portugal, João Pinheiro. Kartu merah diberikan setelah peninjauan video (VAR) membuktikan Embolo melakukan simulasi jatuh sebelum terjadi kontak dengan gelandang Argentina, Leandro Paredes.
Wasit awalnya memberikan kartu kuning kepada Paredes, namun asisten video wasit (VAR) mengintervensi menggunakan protokol kesalahan identifikasi (mistaken identity). Keputusan tersebut dibatalkan dan kartu kuning justru diberikan kepada Embolo yang membuatnya menerima kartu kuning kedua.
Insiden ini memicu kontroversi mengenai keabsahan intervensi VAR untuk kartu kuning kedua. Namun, aturan internasional mengizinkan VAR masuk dalam situasi kesalahan identifikasi pemain yang dikenai sanksi.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, merespons ketatnya pengawasan dan kritik terhadap timnya sepanjang turnamen ini. Scaloni menegaskan teknologi modern membuat keberpihakan wasit menjadi tidak mungkin terjadi.
"Dahulu kala pada tahun 1986 mereka juga mengatakan bahwa kami 'dibantu'. Seingat saya, Argentina selalu menjadi sasaran karena kami selalu menjadi salah satu tim paling menarik di turnamen ini," kata Scaloni.
Scaloni menambahkan bahwa kritik tersebut justru menjadi motivasi tambahan bagi anak asuhnya untuk tampil lebih baik.
"Akan ada banyak orang yang tidak ingin kami menang. Itu mempengaruhi para permis, yang menggunakannya untuk memberontak dan bermain lebih baik lagi," kata Scaloni.
Terkait penggunaan teknologi di lapangan, Scaloni menilai keberadaan VAR menutup ruang bagi keputusan yang salah.
"Dengan VAR, sulit untuk mendapatkan bantuan; tidak ada ruang untuk salah tafsir. Kaki Lisandro diinjak, dan itu pelanggaran. Itu bukan perubahan kepemilikan bola; gol tersebut dianulir. Tidak ada favoritisme; sangat sulit untuk mendapatkannya saat ini," ujar Scaloni.
Di sisi lain, bek Argentina Lisandro Martínez memilih untuk mengabaikan perdebatan media sosial mengenai performa wasit.
"Tidak ada yang perlu dikatakan. Wasit melakukan tugasnya dengan sangat baik. Kalian (para jurnalis) lah yang memicu kontroversi. Kami fokus untuk menampilkan yang terbaik di lapangan," kata Martínez.
Legenda sepak bola Argentina, Mario Alberto Kempes, turut membela tim nasional dari tuduhan miring eksternal.
"Los perdedores siempre van a llorar. Y para pensar que te regalan un Mundial hay que ser muy, muy…" kata Kempes.
Kempes menambahkan bahwa rumor bantuan terhadap tim Tango sudah berembus sejak masa lampau, termasuk saat dirinya membawa Argentina juara pada era 1978.
"Después de todo lo que nos dijeron a nosotros en el 78 ya estoy curado de espanto" ujar Kempes.
Ia pun menyarankan agar tim kepelatihan dan pemain tidak terlalu memedulikan isu-isu liar tersebut.
"¿Qué podés decir? Que sigan hablando, no hay problema. Si respondés cada vez que te preguntan, te volvés loco" tutur Kempes.
Kempes juga memberikan pandangan bahwa tim asuhan Scaloni bisa menjadi generasi terbaik jika mampu mempertahankan trofi emas.
"El reconocimiento uno lo agradece porque, quieran o no, la primera piedra la pusimos nosotros. Desde el 78 nos ganamos el respeto" ucap Kempes.
Ia menilai persaingan juara dunia kali ini memiliki peta kekuatan yang sangat merata dan cenderung defensif.
"Yo siempre lo dije: las tres selecciones han sido mejores en su momento. Si esta llega a salir bicampeona, esta va a ser the mejor. Eso está más claro que el agua. De momento los tres vamos empatados" kata Kempes.
Kempes melihat beberapa negara kuat Eropa masih memiliki peluang yang sama besar untuk melangkah ke babak final Piala Dunia.
"Estamos viendo un Mundial muy irregular, quizás un poco mezquino, porque cada uno se defiende con las armas que tiene" kata Kempes.
Menurutnya, laga fase gugur melawan tim terstruktur seperti Swiss membutuhkan fokus mental yang sangat tinggi agar tidak melakukan blunder.
"Entre España, Francia y Argentina va a estar la final, pero también está Inglaterra y ya veremos lo que pasa" ujar Kempes.
Kempes memuji daya juang kolektif yang ditunjukkan tim saat berhasil membalikkan keadaan di laga-laga sebelumnya.
"Nadie le va a salir a jugar cara a cara, pero son partidos que hay que pensarlos mucho, worked mentalmente y no equivocarse" kata Kempes.
Ia percaya bahwa kedalaman skuat dan rasa saling percaya antar-pemain menjadi penentu utama kemenangan sebuah tim.
"Los mejores jugadores del mundo te pueden ganar partidos y los campeonatos te los gana el equipo" tutur Kempes.
Kempes mengakhiri penjelasannya dengan mengingat kembali momentum kebangkitan dramatis Argentina saat menghadapi perlawanan Mesir.
"La revolución que hubo el otro día cuando Argentina perdía 2 a 0 fue del equipo. El equipo estaba tan confiado que hizo un esfuerzo titánico y salieron bien las cosas. En doce minutos es muy difícil remontarle a un equipo como Egipto" kata Kempes.
Pertandingan perempat final ini terpaksa dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu setelah skor imbang 1-1 bertahan hingga peluit panjang babak kedua berbunyi.