Mengenal Unified Memory Arsitektur Memori Baru untuk Laptop

Share

Istilah Unified Memory belakangan ini kerap terdengar sebagai standar arsitektur baru yang disematkan pada perangkat laptop maupun mini-PC. Dilansir dari Gamebrott, teknologi memori terpadu ini sebenarnya masih mengandalkan komponen yang sama dengan komputer konvensional, seperti CPU, GPU, RAM, dan NPU. Komponen RAM yang digunakan pada arsitektur ini pada dasarnya tetap memakai jenis LPDDR5, namun cara penyajiannya ke dalam sistem yang berbeda.

Pada sistem komputer konvensional, RAM ditempatkan pada modul terpisah di motherboard dengan jarak yang cukup jauh dari prosesor sehingga menimbulkan latensi.

Fungsi RAM konvensional adalah menyimpan data pemrosesan sementara secara bergantian dari dan ke komponen prosesor. Sementara itu, GPU atau unit pemrosesan gambar memiliki memori terpisah sendiri yang disebut VRAM untuk mengolah visual.

Arsitektur Unified Memory bekerja dengan cara menggabungkan RAM prosesor dan VRAM GPU ke dalam satu kolam atau pool memori yang sama. Penggabungan dua jenis memori ini dimungkinkan dengan menyatukan komponen CPU dan GPU ke dalam satu paket chip yang disebut SoC atau System on Chip.

Arsitektur memori terpadu ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi sistem dalam mengakses jumlah kapasitas RAM yang tersedia saat dijalankan. Saat perangkat menjalankan game berat yang membutuhkan VRAM besar, sistem dapat langsung mengambil alokasi dari kolam memori terpadu tersebut. Sebaliknya, ketika prosesor membutuhkan pemrosesan data intensif tanpa beban visual, alokasi memori akan dialihkan sepenuhnya sebagai RAM biasa.

Proses transfer data menjadi lebih cepat karena sistem tidak perlu lagi melakukan proses salin data atau copy antara GPU dan CPU.

Ketiadaan proses pemindahan data ini juga berdampak positif pada efisiensi daya listrik sehingga baterai laptop dapat bertahan lebih lama.

Kekurangan Arsitektur Unified Memory

Adopsi teknologi baru ini masih tergolong sedikit sehingga biaya produksi dan harga jualnya cenderung lebih tinggi di pasaran.

Pengguna juga tidak dapat melakukan upgrade kapasitas RAM secara mandiri karena komponen memori sudah tertanam menjadi satu kesatuan di dalam SoC. Dari sisi teknis, keterbatasan kapasitas pada satu kolam memori berpotensi memicu perebutan sumber daya antara kebutuhan GPU dan sistem utama.

Saat ini, sejumlah produsen teknologi seperti Apple melalui M-series, AMD dengan Strix Halo, serta NVIDIA lewat RTX Spark telah merilis produk berbasis memori terpadu ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author