ILO Perkirakan 80 Juta Pekerja ASEAN Terbantu Teknologi AI

Share

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan sebanyak hampir 80 juta pekerja atau setara 22,9 persen dari total lapangan kerja di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) terbantu oleh penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) berdasarkan laporan yang dirilis pada Rabu (8/7/2026), dilansir dari Detik Finance. Dari keseluruhan lapangan pekerjaan di Asia Tenggara tersebut, sekitar 11,7 juta tenaga kerja atau 3,3 persen di antaranya masuk dalam kategori paparan tinggi untuk dibantu AI, sedangkan 67 persen lapangan kerja teridentifikasi tidak akan terpapar teknologi ini. Pertumbuhan potensi bantuan AI terus meningkat sejak tahun 2017 termasuk setelah kemunculan AI generatif, namun pihak ILO menegaskan belum ada indikasi kondisi tersebut memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar.

Jenis pekerjaan dengan tingkat paparan AI paling tinggi mencakup analis keuangan, pengembang multimedia, serta pialang keuangan, meskipun gangguan pekerjaan yang meluas belum terjadi akibat teknologi ini.

"Temuan ini menunjukkan semakin pentingnya pasar tenaga kerja bagi pekerjaan-pekerjaan di mana AI generatif dapat semakin membentuk kembali tugas dan proses kerja," kata ILO dalam sebuah laporan, dikutip dari The Straits Times, Sabtu (11/7/2026). Meskipun efisiensi tugas individual meningkat berkat AI generatif, peningkatan ini belum berdampak pada perubahan terukur dalam produktivitas dan lapangan kerja secara keseluruhan, yang kontras dengan kebijakan pengurangan staf oleh beberapa raksasa teknologi di ASEAN.

"Meskipun beberapa perusahaan mengurangi jumlah karyawan atau membentuk kembali tenaga kerja mereka seiring dengan adopsi AI, lapangan kerja di bidang pekerjaan dengan paparan AI tertinggi terus berkembang di seluruh Asia Tenggara," menurut temuan ILO. Singapura mencatatkan persentase pekerja terpapar AI tertinggi di kawasan dengan angka 42,2 persen dari total lapangan kerja, yang kemudian diikuti oleh Filipina, Indonesia, Vietnam, serta Thailand.

"Singapura juga menempati peringkat tertinggi dalam kesiapan AI, didukung oleh infrastruktur digital yang canggih, sumber daya manusia yang mumpuni, dan pendekatan terkoordinasi di seluruh pemerintahan," jelas temuan ILO. Melalui laporan tersebut, ILO meminta pemerintah negara-negara terkait untuk memperkuat tata kelola teknologi ini dan mengintegrasikan kebijakan lewat pendekatan yang berpusat pada manusia guna membantu pekerja serta pelaku bisnis beradaptasi. "Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja di masa depan akan kurang bergantung pada paparan semata daripada pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan lembaga untuk beradaptasi dan menavigasi transisi AI," tegas ILO.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author