Menteri Koperasi Ferry Juliantono Ubah Format Pelatihan Calon Manajer Kopdeskel
Format pelatihan untuk calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel Merah Putih) yang sebelumnya bergaya militer kini resmi diubah. Langkah ini diambil setelah adanya koordinasi langsung antara pihak terkait.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Pertahanan mengenai skema pembekalan tersebut, seperti dikutip dari Detik Finance.
Hasil dari pertemuan tersebut membuahkan evaluasi serta perombakan pada format kegiatan. Selain itu, durasi pelaksanaan pelatihan juga ditambah demi mengakomodasi materi penguatan keterampilan interpersonal bagi para peserta.
"Kemarin sudah dievaluasi, alhamdulillah dari pihak Kementerian Pertahanan juga sudah mau mengevaluasi. Bahkan formatnya juga sudah berubah, kami di Kementerian Koperasi mendapatkan tambahan hari. Tambahan hari yang diberikan kepada kami akan kita berikan bagaimana (cara) interaksi sosial, soft skill, segala macam yang akan melengkapi pengetahuan mereka," ujar Ferry.
Ferry menjelaskan bahwa dari total masa pelatihan selama 45 hari, porsi 15 hari di antaranya dialokasikan khusus untuk pendalaman materi tata kelola. Materi tersebut mencakup manajemen, sektor keuangan, perkoperasian, serta bidang relevan lainnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan operasional perkoperasian di tingkat daerah sangat bertumpu pada kompetensi yang dimiliki oleh sang manajer, bukan sekadar faktor infrastruktur semata.
"Sekarang yang terpenting bukan bangunan fisik (koperasinya) yang keren, bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan barang dagangannya. Tapi, kemampuan manajer-manajer Koperasi Desa itu sangat menentukan keberhasilan operasional dari Kopdeskel Merah Putih," tambahnya.
Ferry menekankan pentingnya aspek operasionalisasi dalam menentukan laju perkembangan lembaga tersebut. Para pengelola diwajibkan mampu menyusun studi kelayakan yang mencakup sektor ritel hingga pengelolaan keuangan skala mikro.
"Teman-teman semuanya harus bisa selain bagaimana mengembangkan usaha dari Kopdeskel Merah Putih, karena model bisnis dan feasibility study yang nanti akan dijadikan pedoman para manajer itu harus juga bagaimana (diterapkan) feasibility study untuk kegiatan ritelnya, untuk keuangan mikronya, untuk gerai obat dan kliniknya, gudang dan logistiknya," bebernya.
"Itu 'kan harus dikemas, diramu oleh seorang manajer Koperasi Desa. Jadi, manajer Kopdes ini dia pemimpin, dia CEO-nya. Dan KPI Kopdes ini harus untung, harus profit. Tapi juga namanya bisnis, di manapun perlu waktu, trial and error," pungkas Ferry.