Kebangkrutan Perusahaan Jepang Cetak Rekor Tertinggi dalam 12 Tahun

Share

Sebanyak 5.346 perusahaan di Jepang mengalami kebangkrutan sepanjang paruh pertama tahun 2026 akibat lonjakan inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang yen. Jumlah kasus kebangkrutan ini meningkat sebesar 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam 12 tahun terakhir, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Sabtu (11/7/2026).

Lembaga riset Tokyo Shoko Research mencatat mayoritas bisnis yang gulung tikar merupakan pelaku usaha kecil dan menengah. Krisis keuangan ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi domestik Jepang yang sedang menghadapi tekanan biaya operasional yang tinggi.

"Angka tersebut muncul di tengah melemahnya mata uang yen yang mempercepat inflasi, sehingga menekan keuangan bisnis, khususnya usaha kecil dan menengah," jelas Tokyo Shoko Research dalam laporannya seperti dikutip dari Japan Today, Sabtu (11/7/2026).

Sekitar 90 persen dari total bisnis yang bangkrut adalah usaha kecil dengan jumlah pekerja kurang dari 10 orang. Selain itu, hampir 80 persen perusahaan yang pailit memikul kewajiban utang sedikitnya 10 juta yen hingga di bawah 100 juta yen, yang kini menjadi beban finansial terstruktur.

Tekanan ekonomi ini diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat karena adanya faktor eksternal lain seperti krisis ketenagakerjaan. Sektor-sektor yang bergantung pada tenaga kerja intensif menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penutupan usaha.

"Dengan kekurangan tenaga kerja yang berkepanjangan juga menjadi hambatan, laju kebangkrutan mungkin akan meningkat mulai musim gugur," kata seorang pejabat dari perusahaan riset tersebut memperingatkan.

Data rincian menunjukkan kebangkrutan akibat kenaikan harga barang melonjak 27,6 persen, sementara masalah kelangkaan pekerja memicu kenaikan kebangkrutan hingga 37,7 persen. Berdasarkan pemetaan wilayah, lonjakan kasus terjadi di sembilan wilayah Jepang kecuali Tohoku, dengan kenaikan tertinggi berada di Hokuriku sebesar 37,3 persen dan Hokkaido sebesar 17,1 persen.

Dari sepuluh sektor industri yang dipantau, delapan di antaranya menunjukkan tren peningkatan kepailitan. Sektor jasa menempati posisi teratas dengan 1.819 kasus atau naik 7,2 persen dibanding tahun 2025, disusul sektor konstruksi yang mencatat 1.026 kasus kebangkrutan.

"Restoran dan pengecer makanan paling terpukul akibat pengurangan pengeluaran konsumen, sementara bisnis semakin mencapai batas kemampuan mereka untuk membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan melalui harga produk yang lebih tinggi," terang Tokyo Shoko Research.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author