China Evakuasi Ribuan Korban Banjir Pakai Jembatan Apung Portabel
Inovasi penyelamatan korban bencana alam di China kini tengah menjadi pusat perhatian global. Otoritas setempat mengoperasikan jembatan apung portabel untuk menyelamatkan warga yang terisolasi akibat bencana banjir.
Dilansir dari Detikcom, badan penanggulangan darurat China, Anneng Construction Group, menerjunkan peralatan khusus tersebut ke lokasi terdampak. Alat ini dirancang agar dapat ditempatkan di air, dilipat, serta disambungkan menjadi struktur yang lebih panjang.
Fungsi utamanya adalah sebagai feri darurat guna menunjang proses penyelamatan di area banjir. Kantor berita China, Xinhua, melaporkan platform raksasa tersebut dijuluki sebagai "Bahtera Nuh" karena mampu mengangkut hingga 500 penumpang dalam sekali jalan.
Anneng Construction Group, yang memiliki rekam jejak sebagai batalyon teknik konstruksi militer, memanfaatkan jembatan ponton bermesin tersebut di Guigang, Guangxi. Melalui peranti ini, sebanyak 6.000 warga yang terjebak banjir berhasil dievakuasi.
Dokumentasi visual mengenai operasi penyelamatan tersebut kini telah disebarkan oleh Kedutaan Besar China di berbagai belahan dunia melalui media sosial. Langkah ini dilakukan guna memperlihatkan efektivitas penggunaan alat taktis tersebut di lapangan.
Selain infrastruktur apung, tim tanggap darurat setempat juga mengoptimalkan drone pengangkut berat. Pesawat tanpa awak ini berfungsi menyalurkan pasokan makanan dan mengevakuasi korban, mendampingi kinerja helikopter pencarian dan penyelamatan konvensional.
Melansir laporan The Economic Times, operasi penanganan bencana ini menuai atensi luas lantaran menerapkan teknologi penyelamatan yang inovatif dalam skala masif. Koordinasi taktis antara peralatan teknik khusus dan sistem udara modern dinilai krusial dalam melindungi nyawa publik.
Respons tanggap darurat dari pemerintah China ini juga mendapatkan apresiasi dari para netizen di jagat maya. Banyak pihak menilai langkah penyelamatan ini sebagai bentuk kepedulian yang nyata terhadap keselamatan masyarakat.
Bencana banjir ini dipicu oleh curah hujan tinggi akibat aktivitas Badai Tropis Maysak yang menyebabkan luapan Sungai Yu. Untuk mengatasi dampak tersebut, sekitar 8.000 personel gabungan telah dikerahkan, dan sebanyak 130.000 penduduk berhasil diselamatkan.
Kendati demikian, bencana alam ini telah mengakibatkan 39 orang meninggal dunia. Mayoritas korban jiwa berada di wilayah Nanning, yang dipicu oleh insiden jebolnya bendungan hingga mendatangkan banjir bandang yang parah.