Pemakaman Ali Khamenei Picu Eskalasi Ketegangan Iran dan Militer AS

Share

Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Kota Mashhad pada Kamis (9/7/2026) diwarnai ketegangan militer setelah Garda Revolusi Iran menuduh Amerika Serikat mengebom dua jembatan kereta api rute Teheran-Mashhad.

Aksi pengeboman yang berlangsung pada malam hari menjelang pemakaman akhir tersebut dinilai sebagai upaya sabotase untuk mengacaukan pergerakan jutaan pelayat menuju kompleks makam Imam Reza.

Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa agresi udara tersebut merupakan bagian dari upaya provokasi Washington di tengah situasi perang yang berkecamuk.

"untuk mengalihkan perhatian" tuduh Garda Revolusi Iran terkait alasan di balik serangan udara Amerika Serikat ke jalur transportasi utama tersebut.

Masa berkabung nasional selama enam hari di lima kota Iran dan Irak resmi berakhir setelah jenazah Khamenei tiba menggunakan pesawat di kota kelahirannya. Sepanjang jalan utama Kota Mashhad, spanduk bertema perlawanan dipasang oleh otoritas setempat guna menggalang solidaritas publik.

"kita harus bangkit" demikian tertulis pada salah satu spanduk slogan resmi yang membentang di atas boulevard pusat kota.

Ribuan pelayat berpakaian hitam memadati jalan dengan membawa foto mendiang pemimpin tertinggi serta poster kecaman terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kemarahan publik meluap mengingat kedua pemimpin tersebut memerintahkan serangan gabungan empat bulan lalu yang menewaskan Khamenei beserta keluarganya.

"Kepergian pemimpin kami terasa lebih berat daripada kehilangan orang tua," ujar Hoda, seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun kepada AFP.

Sentimen anti-Barat menguat di kalangan pelayat yang menuntut tindakan balasan setimpal atas kematian kepala negara mereka.

"Hanya kematian Trump dan Netanyahu yang dapat meredakan kesedihan kami." kata Hoda.

Kendati dipadati lautan manusia, eskalasi konflik regional terus membayangi karena militer Amerika Serikat kembali meluncurkan gelombang serangan gelombang kedua untuk melemahkan posisi Iran di Selat Hormuz. Sebaliknya, Garda Revolusi Iran mengklaim telah membalas dengan menggempur fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.

Situasi ini mengancam kelanjutan nota kesepahaman penghentian permusuhan yang baru ditandatangani kedua negara tiga pekan lalu melalui mediasi Qatar. Di tengah mobilisasi massa tersebut, sejumlah warga sipil di Teheran justru memilih menjauh karena tekanan inflasi ekonomi yang mencapai 80 persen serta trauma tindakan keras aparat pada demonstrasi Januari lalu.

"Tentu saja saya tidak akan menghadiri pemakaman" kata seorang warga lokal yang enggan diidentifikasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author