Massa Padati Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Kota Mashhad Iran

Share

Ribuan pelayat memadati jalan-jalan di kota suci Mashhad pada Kamis (09/07) untuk menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dilansir dari Detikcom, mendiang pemimpin Iran tersebut dimakamkan di kompleks makam Imam Reza yang merupakan situs Muslim Syiah paling suci di negara tersebut.

Rangkaian upacara ini menandai berakhirnya enam hari masa berkabung publik yang digelar di lima kota di Iran serta di Irak. Prosesi pemakaman terakhir berlangsung di tengah situasi yang kembali memanas setelah terjadi aksi saling serang antara militer Iran dan Amerika Serikat (AS).

Sebelum pemakaman di Mashhad, Garda Revolusi Iran menuduh AS melakukan pengeboman terhadap dua jembatan jalur kereta api yang menghubungkan Teheran dengan Mashhad. Pihak militer AS sendiri menyatakan operasi tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran di Selat Hormuz.

Khamenei beserta beberapa anggota keluarganya tewas akibat serangan Israel yang menghantam kediamannya di Teheran pada 28 Februari 2026. Ia kini digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan tidak hadir dalam rangkaian upacara karena mengalami luka serius dalam serangan yang sama.

Suasana duka di jalanan Mashhad dipenuhi oleh pelayat berbaju hitam yang membawa bendera Iran, foto Khamenei, serta poster yang menyerukan tuntutan balas dendam kepada Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

"Kepergian pemimpin kami terasa lebih berat daripada kehilangan orang tua," kata Hoda, seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun.

Warga yang berduka terus menyuarakan kemarahan mereka di sepanjang rute prosesi. Sentimen serupa juga disampaikan oleh warga lain di tengah lautan massa penuntut balas dendam.

"Hanya kematian Trump dan Netanyahu yang dapat meredakan kesedihan kami," kata Hoda.

Krisis ini juga memicu reaksi keras dari para pemimpin pemerintahan. Presiden Iran memberikan pembelaan terhadap keaslian duka masyarakat yang sempat dipertanyakan oleh pihak luar.

"Air mata muncul dari rasa sakit dan duka yang bergolak dalam diri seseorang, dan dunia dapat melihat kenyataan itu," ujar Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Ketegangan politik ini pun direspons secara terbuka oleh masyarakat yang hadir di lapangan. Seorang pelayat menyampaikan pesan langsung mengenai ancaman balasan yang akan segera dikirimkan ke pihak AS.

"Saya ingin menyampaikan satu kalimat kepada Presiden Trump dan kepada dunia," ujar seorang pria berambut abu-abu bernama Mojtaba.

Ia menegaskan bahwa aksi balasan dari kelompok pendukung pemerintah akan segera terlihat dalam waktu dekat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kematian pemimpin mereka.

"Segera, dalam waktu dekat, Anda akan melihat tanda-tanda pembalasan di puncak Gedung Putih. Dan tak lama lagi, warna Gedung Putih akan berubah menjadi warna bendera merah saya," ujar Mojtaba.

Di sisi lain, konflik ini mengancam nota kesepahaman (MoU) penghentian permusuhan yang ditandatangani AS dan Iran tiga pekan lalu. Qatar selaku mediator menyatakan bahwa pertemuan perundingan berikutnya baru akan digelar setelah seluruh rangkaian upacara pemakaman Khamenei selesai.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Ali Khamenei Iran Timur Tengah
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author