Topan Bavi Hantam Taiwan dan Jepang, Belasan Ribu Warga Mengungsi
Dampak pergerakan Topan Bavi memicu evakuasi massal terhadap lebih dari 14 ribu warga di Taiwan setelah badai tersebut menerjang wilayah kepulauan terpencil di barat daya Jepang pada Sabtu (11/7).
Badai besar ini dilaporkan bergerak menuju China dan Taiwan bagian utara, serta sempat menyebabkan pemadaman listrik secara massal di wilayah Okinawa. Kota pelabuhan Keelung di Taiwan diproyeksikan menjadi salah satu area yang menerima dampak paling parah sehingga membuat kondisi jalanan sepi.
"Semua orang takut akan cuaca buruk dan memilih tinggal di dalam rumah, tetapi saya hanya keluar karena ada pesanan," kata Tsai, seorang pemilik toko kepada AFP.
Pria berusia 50 tahun tersebut tetap memilih beraktivitas demi melayani para pekerja yang tidak bisa meninggalkan tempat tugas mereka selama cuaca ekstrem.
"Beberapa orang sedang bertugas dan tidak akan punya makanan, jadi saya masih perlu mengantarkan makanan kepada mereka," ujar Tsai.
Sebelumnya, Bavi menghantam Guam dan Kepulauan Mariana Utara pada Senin (6/7) sebelum statusnya diturunkan menjadi topan saat melintasi Samudra Pasifik. Berdasarkan data Badan Meteorologi Pusat Taiwan (CWA), kecepatan angin maksimum Bavi melambat menjadi 144 kilometer per jam dengan hembusan mencapai 180 kilometer per jam pada Sabtu (11/7). CWA juga mengeluarkan peringatan potensi hujan deras ekstrem di Taiwan utara dan gelombang laut berbahaya hingga 10 meter.
"Dampak topan akan lebih signifikan pada siang hari ini," kata Jasong Cheng, peramal cuaca CWA.
Pihak meteorologi terus memantau pergerakan badai ini, yang diperkirakan akan menjadi topan terbesar yang melanda wilayah Taiwan dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
"Periode dampak terbesar diperkirakan sekitar setengah hari hingga sore hari," imbuh Jasong Cheng.