Musisi Indonesia dan Malaysia Rilis Our Power Suarakan Kemerdekaan Palestina

Share

Sejumlah musisi ternama dari Indonesia dan Malaysia meluncurkan lagu kolaborasi lintas negara bertajuk Our Power. Karya yang mengusung genre pop-rock alternatif ini merupakan inisiasi dari pergerakan Tanah Para Nabi (TPN) Movement bersama organisasi Friends of Palestine untuk menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan mendesak diakhirinya genosida di Gaza, seperti dikutip dari Detikcom. Proyek ambisius ini melibatkan deretan nama besar di industri musik kedua negara, seperti Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Noh Salleh (Hujan), Eka Annash (The Brandals), Lala Karmela, hingga rapper asal Malaysia, Kayda.

Lagu tersebut diciptakan sebagai anthem penguat bagi gerakan kemanusiaan sipil seperti Global Sumud Flotilla dan Global March yang berupaya menembus blokade di jalur Gaza. Bella Fawzi, selaku salah satu penggagas dan penulis lagu, mengungkapkan karya ini lahir dari akumulasi keresahan para seniman terhadap krisis kemanusiaan yang tidak kunjung usai. Musik dipilih sebagai medium utama karena kekuatannya yang bersifat universal melampaui sekat negara dan budaya.

"Judul lagunya adalah 'Our Power' yang bercerita tentang harapan kami dan juga keresahan kami atas isu Palestina yang tidak kunjung usai. Kami tidak berdiri sendirian, karya ini dibantu oleh banyak sekali teman-teman luar biasa untuk menyuarakan apa yang benar bagi kebebasan Palestina," kata Bella Fawzi dalam konferensi pers di kawasan Blok M, Jumat (10/7/2026).

CEO Friends of Palestine, Rayyan Abdalla, menekankan pentingnya peran publik figur dan musisi dalam menjaga isu Palestina tetap hidup di mata dunia. Baginya, kolaborasi ini adalah jawaban atas pertanyaan mengenai bagaimana seni dapat memberikan dampak nyata bagi perjuangan kemennesiaan. "Di saat kekuasaan terlalu sering digunakan untuk membungkam kebenaran, kami memilih musik untuk menjadi kekuatan kami demi membebaskan bangsa. Seni suatu hari nanti akan menjadi pintu bagi kebebasan, pintu untuk berbagi kebenaran, dan pintu untuk berbagi kemanusiaan," ujar Rayyan Abdalla.

Musisi asal Malaysia, Noh Salleh, juga memberikan pandangan mendalam mengenai keterlibatannya dalam proyek ini. Ia menilai kolaborasi ini berhasil menyatukan dua negara serumpun yang selama ini sering berselisih karena hal-hal sepele di media sosial menjadi satu visi besar yang lebih bermakna. "Sebenarnya Palestina yang sedang membebaskan kita, bukan kita membebaskan Palestina. Indonesia dan Malaysia mungkin sering terpisah karena urusan mie goreng atau rendang, tapi hari ini kita bersatu karena Palestina untuk menghidupkan kemanusiaan," kata Noh Salleh.

Proses produksi lagu ini dilakukan secara jarak jauh selama satu bulan penuh, dengan teknis rekaman vokal yang terbagi di studio Indonesia dan Malaysia. Fia Fellow, yang bertindak sebagai produser musik dan arranger, menyebutkan talenta para musisi dikerahkan sepenuhnya untuk menciptakan aransemen yang energik guna menyeimbangkan profesi mereka dengan aksi sosial. "Dari awal bermusik saya mempunyai motto bahwa kita harus bersuara untuk mereka yang tak mampu bersuara.

Ini adalah cara untuk menyeimbangi profesi kami sebagai musisi, di mana kami diberi bakat untuk membuat lirik dan musik agar bisa menjadi bahasa yang paling universal untuk kemanusiaan," jelas Fia Fellow. Seluruh royalti yang dihasilkan dari pemutaran lagu Our Power di berbagai platform digital akan disumbangkan sepenuhnya untuk membantu warga Palestina melalui NGO Friends of Palestine.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author