Film Moana Live-Action Raih Pendapatan Awal di Tengah Kritik

Share

Film komedi petualangan live-action Moana garapan Disney resmi membuka penayangannya pada akhir pekan ini dengan mengantongi pendapatan awal sebesar 4,5 juta dolar AS melalui sesi pratinjau. Dilansir dari The Hollywood Reporter, film yang dibintangi oleh Dwayne Johnson ini bersaing dengan film horor lansiran Warner Bros. bertajuk Evil Dead Burn di bioskop. Meskipun mencetak angka pembukaan yang cukup menjanjikan, adaptasi terbaru dari animasi populer tahun 2016 ini justru menerima rapor merah dan ulasan negatif dari mayoritas kritikus film dunia.

Kritikus film Variety, Owen Gleiberman, menjadi salah satu suara positif yang menilai adaptasi ini berhasil keluar dari kutukan kegagalan film buat ulang.

"escapes the remake blues – in fact it soars above them" kata Owen Gleiberman. Ia menambahkan bahwa aspek keindahan, kepribadian jenaka, serta pesona dongeng dalam film asli berhasil tersampaikan dengan baik melalui performa Dwayne Johnson yang dinilai sangat cocok.

"truly delivers 'Moana' – the beauty, the comic personality, the fairy-tale enchantment" puji Owen Gleiberman. Sebaliknya, Peter Bradshaw memberikan ulasan berbintang dua di The Guardian dan menyebut film ini sebagai proyek pengerukan keuntungan yang tidak bersemangat karena performa pemainnya terasa seperti digerakkan oleh perangkat lunak.

"competent but pointless and unexciting back-to-basics live-action remake" ujar Peter Bradshaw. Ia juga menyoroti penggunaan CGI yang terlalu dominan sehingga membuat film ini kehilangan rasa sinema nyata. "feels like a superfluous piece of monetisable content" tambah Peter Bradshaw.

Kritikan yang jauh lebih tajam datang dari Clarisse Loughrey dari The Independent yang memberikan penilaian bintang satu dan menganggap proyek ini sebagai pemborosan talenta.

"a waste of everyone's time and talent" tulis Clarisse Loughrey. Ia mempertanyakan keputusan untuk membiarkan Dwayne Johnson mengulang performa vokal yang sama persis seperti satu dekade lalu, serta mengkritik latar tempat yang terasa seperti buatan studio. "Supposedly, some scenes were shot on location in Hawaii and not in a studio in Atlanta – I couldn't tell you which." sebut Clarisse Loughrey.

Senada dengan hal tersebut, John Nugent dari Empire menyayangkan hilangnya kehangatan kisah aslinya dan menilai karakter utama pria di film ini tampak seperti sebuah kecerdasan buatan.

"feels like an AI interpretation" tutur John Nugent. Nugent menganggap penyebutan istilah live-action kurang tepat karena ketergantungan yang teramat besar pada teknik animasi.

"a fun, funny, poignant coming-of-age yarn with fantastic music and a winning Polynesian spin on the Disney Princess template" ungkap John Nugent mengenang keunggulan versi animasi aslinya. Penilaian buruk juga diutarakan Kevin Maher dari The Times yang menganggap aktor utama berusia 54 tahun tersebut sudah terlalu tua untuk memerankan karakter Maui.

"three decades too old to play Maui" kata Kevin Maher. Maher menyatakan bahwa adaptasi ini telah mengubah segala ambisi besar dan kebebasan yang ada pada versi aslinya menjadi sebuah tontonan yang kaku. "a lazy cash grab for shareholders" cetus Kevin Maher.

Ia menilai proyek ini hanya bertujuan untuk memuaskan para pemegang saham semata.

"This live-action remake takes everything that was sprightly, expansive and ambitious [from the original] and makes it leaden, limited and dull" tegas Kevin Maher. Kritikus Robbie Collin dari The Telegraph turut memberikan ulasan bintang dua dan menyatakan bahwa film ini seolah-olah diproduksi hanya dengan menggunakan instruksi teks digital. "could have been made by a ChatGPT prompt" papar Robbie Collin.

Menurutnya, hampir tidak ada elemen kreatif yang terasa organik di dalam film.

"is barely a moment in it which feels as if it couldn't have been achieved by typing: 'What if this scene from Moana was remade in live action?' into a prompt box" ulas Robbie Collin. Di tengah kepungan ulasan buruk, David Rooney dari Hollywood Reporter muncul sebagai pembela dengan menyebut film ini sebagai hiburan keluarga yang memikat.

"captivating family entertainment that deserves to find an audience – brimming with visual interest, vibrant color, gorgeous design elements and alluring tropical settings" puji David Rooney. Proyek layar lebar ini disutradarai oleh Thomas Kail, dengan naskah yang digarap oleh penulis asli Jared Bush serta mempertahankan aransemen musik dari Lin-Manuel Miranda.

Berdasarkan catatan historis, Disney telah memproduksi lebih dari 20 film adaptasi live-action dalam 15 tahun terakhir dengan performa finansial yang fluktuatif. Setelah mencatat kerugian sebesar 170 juta dolar AS melalui Snow White tahun lalu, raksasa hiburan ini berhasil menutup kerugian berkat kesuksesan Lilo & Stitch yang meraup pendapatan sebesar 1 miliar dolar AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author