Mengenal Kamitetep Larva Serangga Penyebab Gatal dan Cara Mengatasinya

Share

Kamitetep sering ditemukan menempel pada dinding atau sudut rumah dengan selubung berbentuk kantong kecil. Kontak kulit dengan jenis serangga tertentu ini dapat memicu rasa gatal yang mengganggu.

Hewan ini merupakan fase larva dari serangga sejenis ngengat yang mengalami metamorfosis mirip kupu-kupu. Nama ilmiah kamitetep adalah Phereoeca uterella atau kerap disebut casebearer caterpillar.

Pakar ilmu serangga dan hama tumbuhan dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Ir Edhi Martono, Ph.D, memberikan penjelasan mengenai siklus hidup serangga ini, seperti dilansir dari Detik Health.

"Seekor induk dewasa akan bertelur sebanyak 200 butir telur dengan waktu menetas sekitar 10 hari atau lebih. Setelah menetas, muncul larva yang hidup sekitar 50 hari," jelas Prof Edhi.

Riset mengenai hewan ini tergolong minim karena kamitetep umumnya hanya dianggap sebagai serangga pengganggu. Area dinding rumah yang tidak terlalu lembap maupun terlalu kering menjadi tempat tinggal favoritnya.

"Berbeda dengan wereng misalnya, semua orang bicara tentang wereng. Kemudian kemarin ada yang menyerang jagung dan sebagainya, itu banyak yang dicari soal itu," katanya.

Gatal akibat kamitetep bukan disebabkan oleh gigitan atau racun. Prof Edhi menerangkan bahwa sensasi gatal tersebut dipicu oleh debu dan kotoran yang menempel pada selubung larvanya.

"Kalau dia beracun, maka dia itu mesti mempunyai cara untuk membuat racun itu sampai kepada lawannya. Dia kan tidak menyemprotkan, dia tidak menggigit," jelasnya.

Praktisi kesehatan kulit, Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, Subsp. O.B.K., FINSDV, FAADV, menjabarkan sejumlah gejala yang muncul pada kulit akibat paparan debu kamitetep.

Gejala tersebut meliputi kemerahan yang meluas, rasa gatal pada area merah, pembengkakan, hingga iritasi atau nyeri. Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, Subsp. O.B.K., FINSDV, FAADV juga menambahkan dampak lain serangga ini.

"Kamitetep dapat menyebabkan gejala-gejala pada kulit, serangga ini juga dapat menimbulkan reaksi alergi," jelas dr Darma.

Seorang mahasiswi di Denpasar yang memiliki kulit sensitif, Dwi Kukuh Wandari, turut menceritakan pengalamannya saat terpapar serangga tersebut.

"Bentolnya itu kayak satu-satu gitu lo, kayak ada titik di tengahnya gitu. Tapi aku nggak tahu itu warna hitam atau merah soalnya udah lama. Habis itu nggak pernah kena lagi soalnya," kata Wanda.

Langkah pertolongan pertama yang direkomendasikan oleh dr Darma adalah segera membasuh bagian tubuh yang terdampak menggunakan air dan sabun.

Kompres dingin juga dapat diaplikasikan guna meringankan gatal serta nyeri. Pembaca disarankan untuk tidak menggaruk area kulit yang terkena agar gejalanya tidak semakin parah.

"Jika keluhan memburuk, segera berobat ke dokter," saran dr Darma.

Penggunaan minyak aromaterapi tidak disarankan untuk meredakan gatal ini. Pemakaian salep antiradang pun sebaiknya dilakukan berdasarkan petunjuk dan anjuran dari tenaga kesehatan.

"Biar nggak dicoba macam-macam, malah bisa jadi iritasi," saran dr Darma.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author