Teater Koma Segera Pentaskan Rumah Sakit Jiwa di TIM
Kelompok teater tertua di Indonesia, Teater Koma, bersiap menggelar pementasan ke-253 yang bertajuk 'Rumah Sakit Jiwa'. Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Pementasan ini mengangkat kembali naskah lawas karya pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno, yang ditulis pada tahun 1991. Sejak pementasan perdana sekitar 35 tahun lalu, lakon ini belum pernah diproduksi ulang oleh mereka.
Kisah dalam naskah tersebut berfokus pada dinamika antara pasien dan dokter di sebuah rumah sakit jiwa yang sarat intrik kekuasaan. Alur cerita menyoroti seorang dokter muda dengan pendekatan humanis yang justru coba dibungkam oleh sistem lama.
Sutradara pementasan terbaru, Rangga, membawa perspektif baru yang lebih segar dengan melibatkan mayoritas aktor muda. Para pemain baru bahkan dilarang menonton dokumentasi pementasan tahun 1991 agar dapat memberikan interpretasi yang berbeda.
Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno, menjelaskan bahwa tim produksi tetap melakukan riset langsung ke rumah sakit jiwa untuk kebutuhan adaptasi ini. Langkah tersebut dilakukan guna melihat perubahan tata kelola rumah sakit dari masa lalu hingga era modern.
"Saya menganggap yang lalu lupakan, jadi memang jadi pertunjukan yang baru karena sutradara baru. Persepsinya juga baru. Dahulu, kami juga mendatangi RSJ buat riset, sekarang juga sama buat kebutuhan riset. Saya mendengar ceritanya, ada beberapa yang beda dari pengelolaan rumah sakit dulu dan sekarang," ucap Ratna Riantiarno saat jumpa pers di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (10/7), dilansir dari Detikcom.
Berdasarkan hasil survei lapangan, tim menemukan berbagai latar belakang pasien masa kini, termasuk fenomena tekanan sosial akibat kontestasi politik hingga persoalan psikologis lainnya.
"Survei RSJ juga harus dilihat, yang sakit jiwa yang mana, yang sehat atau yang sakit jiwa. Kadang-kadang apa yang diucapkan oleh pasien ada yang benar. Kadang-kadang ada yang gak beres, mesti melihat sesuatu dan keadaan yang berbeda. Rangga (sekarang) punya POV yang beda," sambung Ratna.
Melalui sudut pandang baru ini, Rangga menyematkan slogan pelengkap yang berbunyi 'Saya merasa dunia sedang berubah menjadi sebuah: Rumah Sakit Jiwa'. Kutipan tersebut merefleksikan kontradiksi dan kebingungan yang terjadi dalam situasi global saat ini.
"Sebenarnya kita punya dokumentasinya, saya memilih jangan ditonton lagi, kita melihat dengan mata yang baru. POV baru, mau ngomong apa dengan dunia. Ketika ada pemimpin dunia, presiden FIFA kasih kartu merah bisa dibatalin, atau ada yang nyerang tapi malahan dapat Peace Prize.
Apa jangan-jangan kita yang gila dan mereka yang waras. Saya merasa dunia berubah ke rumah sakit jiwa," terang Rangga.
Penyegaran juga menyasar sektor audio melalui aransemen musik yang digarap oleh Fero A. Stefanus selaku Pengarah Musik. Ia memadukan unsur modern dari era 2000-an dengan efek suara terkini tanpa mengandalkan ingatan aransemen versi terdahulu.
"Saya gak boleh menonton rekaman tahun 1991, saya berusaha juga gak mencari tahu sih. Kata Mas Nano, ada musik yang spesifik sekali ada terompet juga. Di luar itu, imajinasi saja. Bebas saja," ucap Fero.
Langkah eksploratif ini sengaja diambil untuk memberikan nuansa pertunjukan yang benar-benar berbeda bagi penonton.
"Sentuhan musiknya bakal beda banget dan lebih segar," tutur Fero.