UEA Genjot Produksi Minyak Mentah ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan telah meningkatkan produksi minyak mentah hingga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada bulan lalu. Langkah Abu Dhabi ini menjadi indikasi kuat respons berani mereka terhadap gangguan akibat ketegangan di Iran. Dilansir dari Bloombergtechnoz, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat produksi harian UEA menyentuh angka rata-rata 4,1 juta barel per hari pada Juni.
Volume ini melewati rekor sebelumnya sebesar 4 juta barel per hari yang tercipta pada tahun 2020 lalu. Lonjakan pasokan ini terjadi setelah UEA memutuskan keluar dari kelompok produsen OPEC+ pada awal tahun ini. Strategi agresif UEA ditunjukkan dengan mengoptimalkan armada kapal mandiri serta menyewa tangker tambahan dari Sinokor Group asal Korea Selatan.
Guna mengeluarkan minyak dari Teluk Persia tanpa terdeteksi, banyak kapal tanker tersebut beroperasi secara gelap dengan mematikan transponder digital mereka. Pemulihan ekspor ini sebagian besar terjadi sebelum insiden penyerangan kapal komersial di Selat Hormuz.
Langkah ini menegaskan bahwa UEA kini bebas dari batasan kuota yang biasanya ditetapkan oleh OPEC. Data pelacakan kapal menunjukkan volume ekspor UEA telah kembali ke level sebelum konflik geopolitik memanas. Di sisi lain, Arab Saudi selaku produsen terbesar di kawasan tersebut juga hampir memulihkan pengirimannya dari terminal utama Ras Tanura. Arus pasokan yang kembali pulih ini ikut mengubah kondisi pasar dunia dari yang semula ketat menjadi surplus.
Dampak Konflik Geopolitik terhadap Harga
Ketegangan sempat kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata secara efektif batal. Pernyataan tersebut menyusul aksi saling serang yang dilancarkan oleh kedua belah pihak di kawasan Teluk. Pasukan AS dilaporkan menyerang sejumlah lokasi di Iran selama dua hari berturut-turut. Sementara itu, pihak Teheran membalas dengan melepaskan tembakan ke wilayah Bahrain dan Kuwait.
Kondisi ini sempat membuat harga kontrak berjangka Brent menembus US$80 per barel pada awal pekan. Namun, harganya kemudian melandai ke level sekitar US$76 per barel pada perdagangan hari Jumat. Menurut laporan IEA, produsen utama Teluk Persia lainnya juga ikut menggenjot produksi mereka pada Juni meskipun belum menyamai level sebelum perang.
Arab Saudi mencatat produksi 7,3 juta barel per hari setelah mengalami kenaikan 900.000 barel dari bulan sebelumnya. Selanjutnya, produksi minyak Kuwait meningkat menjadi rata-rata 1,4 juta barel per hari, sedangkan Irak berada di angka 2 juta barel per hari. Kendati aliran minyak mentah melonjak, aktivitas kilang di Teluk masih lambat dengan ekspor produk yang belum mencapai setengah dari level sebelum konflik.