Kolektif Tromarama Bandung Pajang Karya Seni Media Art di Times Square New York
Karya kelompok kolektif asal Bandung, Tromarama, kini tengah menjadi sorotan di Amerika Serikat. Grup ini memajang karya seni video mereka di deretan billboard Times Square, New York.
Dikutip dari Detikcom, penayangan ini merupakan bagian dari Midnight Moment, sebuah program seni video publik terbesar dan terlama di dunia. Karya tersebut dapat disaksikan mulai pukul 23.57 hingga 00.00 waktu setempat sampai 31 Juli 2026.
Tromarama yang berdiri sejak tahun 2006 ini beranggotakan tiga seniman, yaitu Febrie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena. Kelompok ini dikenal konsisten mempopulerkan teknologi dalam setiap karya media art mereka.
Karya seni video yang dipajang di lebih dari 100 papan reklame elektronik di Times Square tersebut berjudul Turn On #2. Program publik ini dipersembahkan oleh Times Square Arts bersama dengan @thekitchen_nyc.
Tema yang diusung pada bulan ini berfokus meneliti bagaimana teknologi membentuk kembali pengalaman sehari-hari. Selain itu, pameran ini juga melihat perubahan persepsi manusia tentang realitas serta hubungan dengan lingkungan.
Visual dari karya Tromarama tersebut menggambarkan lingkaran kipas listrik yang muncul secara terus-menerus dan terkoordinasi. Gambar lainnya turut menampilkan pemandangan familiar yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
"Apa yang awalnya terasa seperti rantai sebab dan akibat yang jelas perlahan terurai, mengganggu ekspektasi yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan menimbulkan pertanyaan tentang memori, asosiasi, dan otentisitas di dunia yang sangat terhubung," tulis Times Square.
Melalui pemanfaatan layar elektronik sebagai ruang negosiasi, Turn On #2 mengeksplorasi metode teknologi kontemporer dalam meruntuhkan batasan antara dunia nyata dan digital.
Selain tampil di billboard Times Square, eksibisi seni solo pertama Tromarama di Amerika Serikat juga digelar dengan tajuk Upon a Machine. Pameran tersebut berlangsung pada 23 April hingga 13 Juni 2026.
Dalam eksibisi Upon a Machine, mereka menyajikan karya seni instalasi, video, serta proses algoritmik. Seluruh rangkaian karya tersebut dihadirkan untuk menyelidiki batas antara ruang fisik dan virtual.