RANS Resmi Melantai di BEI dan Klarifikasi Isu Pencucian Uang

Share

PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) resmi mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Jumat (10/7/2026). Melalui momentum ini, manajemen RANS mengklarifikasi isu pencucian uang serta memaparkan target ekspansi bisnis jangka panjang mereka ke publik.

Dilansir dari CNN Indonesia dan Kompas.com, perusahaan menawarkan 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dengan harga Rp170 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, emiten berhasil menghimpun dana segar maksimal sebesar Rp429,25 miliar.

Komisaris Utama RANS Darwin Cyril Noerhadi menegaskan bahwa tudingan pencucian uang yang beredar di media sosial merupakan kabar burung yang tidak memiliki landasan kuat.

"Jadi kalau mungkin tadi masalah pencucian uang, itu mungkin lebih kepada rumours yang ada, daripada faktanya yang ada. Mungkin itu jawaban dari saya," ujar Komisaris Utama RANS Darwin Cyril Noerhadi.

Darwin menjelaskan bahwa seluruh rangkaian proses penawaran umum perdana saham ini telah melewati pemeriksaan ketat. Prosedur tersebut disesuaikan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bursa Efek Indonesia.

"Dua syarat itu yang kemudian otoritas di pasar modal membuat perubahan. Perubahan itu yang sekarang dalam proses dan berlangsung dan RANS memenuhi syarat tersebut," ujar Darwin.

Ia menambahkan, masuknya Grup Emtek sebagai investor strategis senilai Rp248 miliar merupakan bukti nyata dari pertumbuhan nilai valuasi RANS yang akuntabel.

"Saat dimana tadi Pak Tanto katakan Emtek masuk Rp248 miliar sejumlah katanya hampir 17-18 persen, valuasi saat itu saja sudah Rp1,3 triliun. Jadi dengan sekarang, pada saat itu sekitar segitu, sekarang dengan pertumbuhan 10 persen, itu kurang lebih bisa Rp2 triliun lebih. Which is, itu yang terjadi," ujar Darwin.

Menurut Darwin, status sebagai perusahaan terbuka memaksa RANS untuk memaparkan kondisi fundamental perusahaan secara transparan didukung dokumen hukum konkrit.

"Makanya saya rasa IPO-nya RANS itu penting untuk menyampaikan apa yang terjadi di emiten ini secara fakta yang ada, mengikuti ketentuan baik dari otoritas jasa keuangan dan Bursa Efek Indonesia," ujar Darwin.

Terkait alokasi dana hasil IPO sebesar Rp429,25 miliar, perseroan akan menggunakannya untuk diversifikasi usaha agar pendapatan korporasi tidak bergantung pada ketenaran figur publik semata.

“Nah mengenai manfaat dari dana IPO Rp 429.250.000.000 itu, tentu ada beberapa hal yang akan digunakan. Basisnya adalah tetap pada ketenaran individu, tapi turunannya atau diversifikasi dari jasa itu penting untuk bisa keberlangsungan dari organisasi,” ucap Darwin.

Sekitar 18 persen dari total dana perolehan tersebut direncanakan untuk mendanai sektor kekayaan intelektual (IP) baru, termasuk proyek edukasi anak bernama Cipungland.

“Kemudian penggunaan lain lagi adalah untuk IP tadi intellectual property yaitu Rp 400 miliar kurang lebih, sekitar katakanlah 18 persen itu Cipungland. Cipungland itu kegiatan di mana untuk anak-anak yang sifatnya pendidikan, nah ini penting. Di mana 150 juta follower dan subscriber itu dunia pendidikan penting,” pungkas Darwin.

Direktur Utama RANS Nagita Slavina menambahkan, penjelasan terkait tuduhan miring dari pihak luar sengaja diserahkan kepada dewan komisaris demi menjaga objektivitas publik.

"Saya rasa kalau itu datangnya dari saya dan Raffi mungkin rasanya kurang elok. Tapi kalau itu, kurang objektif. Tapi rasanya kalau dari Pak Cyril harusnya lebih membuka mata sebenarnya apa yang terjadi. Terima kasih Pak," ujar Direktur Utama RANS Nagita Slavina.

Sementara itu, Pendiri RANS Raffi Ahmad mengungkapkan visi besarnya yang menginginkan korporasi ini terus bertransformasi mengelola portofolio bisnis yang variatif.

“Sekarang sudah menjelma menjadi, ya ada Cipungland, ada FMCG, ada juga FNB, ada juga yang lain-lain. Jadi nanti RANS itu, saya suka tantangan di mana ini harus berubah, berevolusi,” ujar Pendiri RANS Raffi Ahmad.

Raffi menyatakan strategi pengembangan merek dan kekayaan intelektual di perusahaan ini banyak mengadopsi model bisnis milik The Walt Disney Company.

“Kalau boleh saya sebutkan, saya terinspirasi dengan Walt Disney. Pemiliknya bernama Walt Disney, tetapi dia memiliki Disneyland. Anggap saja Walt Disney itu adalah Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, sedangkan Disneyland adalah RANS,” paparnya Raffi.

Langkah diversifikasi produk komersial seperti barang konsumsi hingga taman bermain anak diniatkan untuk memperbanyak kepemilikan aset kreatif independen.

“Disneyland itu punya Mickey Mouse, Rafathar punya FMCG dan lain-lain menjadi IP, punya Rayanza punya Cipungland, jadi IP lagi. Kita punya banyak yang sebenarnya,” pungkas Raffi.

Raffi berharap keterlibatan modal publik melalui bursa saham dapat mentransformasi nama besarnya menjadi sebuah legasi bisnis profesional lintas generasi.

“Bisa dilanjutkan dengan profesional, RANS tetap ada, menjadi legacy, terus generasi itu generasi dia tetap ada, Rans tetap menjadi berkah untuk banyak orang,” katanya Raffi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author