Konflik AS dan Iran Mengancam Stabilitas Negara Kawasan Teluk

Share

Negara-negara di kawasan Teluk kini berada di garis depan dalam ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran setelah pemboman wilayah serta pangkalan militer terjadi pada pertengahan tahun 2026. Situasi memanas setelah Amerika Serikat membombardir sejumlah lokasi di Iran, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Eskalasi ini bermula dari runtuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara antara kedua belah pihak yang sebelumnya ditandatangani pada pertengahan Juni.

"berakhir" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat saat berbicara mengenai kesepakatan tersebut pada KTT NATO di Ankara pada Rabu (8/7).

Pernyataan ini langsung memicu respons dari pihak Iran terkait komitmen kesepakatan bilateral tersebut. "berakhir" ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, Negosiator Utama Iran yang menyatakan bahwa telah terjadi pelanggaran besar terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara.

Serangan balasan Iran berdampak langsung pada Bahrain yang menjadi pangkalan utama Angkatan Laut AS, di mana instalasi militernya berada dekat pemukiman sipil. Pemerintah Bahrain yang dipimpin keluarga kerajaan beraliran Sunni kini menghadapi potensi ketegangan domestik karena mayoritas penduduknya beraliran Syiah seperti Iran.

Sebagai tindakan pencegahan, otoritas Bahrain telah menangkap ratusan orang yang diduga mengunggah pesan anti-perang atau menunjukkan simpati kepada Iran di media sosial. Sementara itu, Kuwait yang menampung sekitar 13.500 personel militer AS di dua pangkalan udara kini mulai menyampaikan protes dengan nada yang lebih tegas kepada Iran. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang juga menampung pangkalan udara AS, sejauh ini belum mendapat serangan langsung pekan ini namun tetap fokus melindungi jalur ekspor minyak mereka.

Qatar dan Oman yang memiliki hubungan relatif baik dengan kedua pihak diperkirakan akan tetap memainkan peran penting sebagai mediator melalui diplomasi tertutup dalam waktu dekat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author