Rupiah Menguat Terbatas ke Rp18.058 per Dolar AS pada 9 Juli 2026
Nilai tukar rupiah bergerak variatif namun berhasil berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan spot Jumat pekan ini. Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang Nusantara sempat melemah tipis 0,01% pada pembukaan perdagangan dan berada di level Rp18.085/US$. Namun, tidak lama setelah itu, rupiah terangkat dan menguat sebesar 0,14% ke posisi Rp18.058/US$ pada pukul 09:15 WIB.
Pergerakan ini sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS terhadap mata uang utama sebesar 0,02% ke posisi 100,88.
Penurunan indeks dolar AS tersebut beriringan dengan merosotnya harga minyak mentah ke level US$76 per barel karena kabar kelanjutan dialog antara AS dan Iran. Kondisi eksternal yang mulai mereda ini membuat sejumlah mata uang di kawasan Asia ikut bergerak di zona hijau.
Yen Jepang tercatat memimpin penguatan sebesar 0,59%, kemudian disusul oleh baht Thailand yang terapresiasi 0,49%. Mata uang lain seperti ringgit Malaysia, yuan offshore, yuan China, peso Filipina, dolar Singapura, serta won Korea Selatan juga ikut menguat bersama rupiah.
Kendati demikian, penguatan mata uang rupiah dinilai masih relatif terbatas bila dibandingkan dengan pergerakan mata uang negara Asia lainnya. Faktor domestik masih membayangi laju rupiah, terutama setelah beberapa data ekonomi yang dirilis pekan ini belum mampu memberikan dorongan kuat. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan adanya potensi kehilangan momentum pertumbuhan akibat penurunan daya beli masyarakat serta memudarnya keyakinan konsumen.
Di sisi lain, koreksi yang terjadi pada aset investasi Indonesia justru dipandang sebagai kesempatan oleh investor jangka panjang.
Manajer investasi asal Afrika Selatan yang mengelola dana sekitar US$29 miliar dilaporkan mulai mengakumulasi saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Langkah investor global tersebut mengindikasikan bahwa fundamental emiten domestik dinilai masih cukup kuat di tengah gejolak jangka pendek. Sementara itu, pergerakan di pasar obligasi menunjukkan tingkat imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 1 tahun turun ke level 7,06% pada pukul 08:00 WIB.
Sebelumnya, yield SUN tenor pendek ini sempat menyentuh angka 7,4% yang sempat memicu fenomena inverted yield pada hari kemarin.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menyebut pembelian SUN oleh investor perbankan, terutama bank-bank Himbara, akan menjadi penopang pasar obligasi, yang disebabkan oleh sisa injeksi Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Kementerian Keuangan senilai Rp120 triliun dari total Rp400 triliun. Lionel beserta tim dari Mega Capital Sekuritas memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak konsolidatif pada rentang 7,25% sampai 7,35%.
Dalam situasi pasar yang bergejolak ini, peluang penguatan nilai tukar rupiah secara bertahap diprediksi masih terbuka, dengan rentang konsolidasi di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.150/US$.