Menteri Perdagangan Sebut Lonjakan Harga Minyak Picu Defisit Neraca Dagang
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 dipicu oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (10/7/2026). "Maret April Harga minyak itu kan lagi di puncaknya. Jadi sebenarnya Karena faktor Harga minyak yang sangat tinggi," kata Budi, Menteri Perdagangan. Kondisi ini mematahkan rekor surplus beruntun selama 72 bulan sejak Mei 2020, setelah sebelumnya Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$89,1 juta pada April 2026 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Meskipun demikian, data kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026 menunjukkan performa perdagangan nasional secara keseluruhan masih berada dalam posisi yang aman.
"Jadi hanya bulan Mei saja [yang defisit], tapi Januari-Mei ya secara kumulatif tetap surplus, dan ekspornya tetap naik," jelas Budi, Menteri Perdagangan. Pemerintah menilai penurunan ini bersifat sementara dan meyakini situasi perdagangan luar negeri akan kembali normal seiring dengan stabilnya harga komoditas minyak di pasar global global.
Secara rinci, performa ekspor Indonesia pada Mei 2026 menyentuh angka US$23,2 miar atau mengalami penurunan sebesar 5,73% secara tahunan akibat melemahnya pengiriman komoditas nonmigas. Sebaliknya, nilai impor melonjak hingga 22,16% secara tahunan menjadi US$24,81 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari masuknya bahan baku dan penolong senilai US$17,58 miliar serta barang modal sebesar US$5 miliar.