Survei BI Ungkap Penurunan Optimisme Kelas Menengah Terdidik

Share

Kondisi ekonomi terkini memicu keresahan di kalangan kelas menengah. Berdasarkan data Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada Rabu (8/7/2026), keyakinan kelompok yang menjadi motor konsumsi domestik ini menunjukkan keretakan. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, penurunan optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini terlihat semakin tajam seiring dengan semakin tingginya jenjang pendidikan konsumen.

Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja yang kompetitif dan menyempitnya peluang kerja di sektor formal. Data menunjukkan kelompok lulusan akademi/diploma dan pascasarjana mencatat penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 6,6 poin dalam sebulan. Sementara itu, kelompok sarjana mengalami penurunan sebesar 6,3 poin, sedangkan masyarakat berpendidikan SMA hanya turun 2,1 poin.

Di kelompok pascasarjana, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini merosot hingga 7,9 poin. Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga turun tajam sebesar 8,9 poin, dan ekspektasi lapangan kerja untuk enam bulan mendatang anjlok 11,2 poin.

Kelompok pascasarjana juga menahan konsumsi barang tahan lama (durable goods) dengan penurunan indeks sebesar 14,1 poin. Penundaan pembelian besar seperti kendaraan, elektronik, dan properti ini menjadi indikator penyesuaian strategi keuangan yang lebih mengutamakan likuiditas. Tekanan serupa terjadi pada kelompok diploma dengan penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 8,3 poin. Ekspektasi kegiatan usaha kelompok ini turun 9 poin dan ekspektasi lapangan kerja merosot 11 poin.

Sementara itu, kelompok sarjana merasakan dampak langsung berupa penurunan penilaian terhadap Pendapatan Saat Ini sebesar 8,1 poin. Persepsi kelompok sarjana terhadap ketersediaan lapangan kerja juga melemah sebesar 8,3 poin.

Faktor Pemicu Tekanan Makroekonomi

Perubahan psikologi ekonomi ini dipicu oleh sejumlah tekanan indikator makroekonomi yang terjadi bersamaan. Salah satunya adalah tingkat suku bunga BI yang bertahan tinggi demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan moneter tersebut berdampak pada mahalnya biaya kredit, sehingga rumah tangga memilih menunda pengeluaran besar.

Di sisi lain, pemulihan pasar tenaga kerja juga tersendat karena perusahaan berhati-hati melakukan ekspansi di tengah permintaan yang belum solid. Kondisi sektor riil ini sejalan dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang terkontraksi ke level 46,9 pada Juni. Tekanan makin berat akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak serta pelemahan rupiah hingga di atas Rp18.000/US$.

Sikap defensif kelas menengah yang mengurangi belanja diskresioner berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. Efek rambatan ini mulai terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (IPR) BI yang turun 3,5 poin menjadi 223,4 pada Mei, dan diperkirakan kembali turun menjadi 221,6 pada Juni.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author