FIFA Klarifikasi Kontroversi Wasit Laga Mesir Melawan Argentina
Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina mengklarifikasi keputusan kontroversial wasit asal Prancis François Letexier dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Mesir dan Argentina pada Kamis, 9 Juli 2026. Klarifikasi resmi ini dikeluarkan melalui situs resmi FIFA menyusul gelombang kritik luas dari kubu Mesir setelah mereka kalah dramatis dengan skor 2-3 dari Argentina. Laga tersebut diwarnai protes keras setelah gol Mesir dianulir karena pelanggaran awal serangan, serta tuntutan penalti untuk Mohamed Salah sesaat sebelum gol ketiga Argentina tercipta.
Sejumlah pakar dan mantan pemain seperti Alan Shearer, Gary Neville, Roy Keane, hingga Claudio Lopez menilai Mesir mengalami ketidakadilan, sementara pakar wasit Graham Scott menyebut pembatalan gol itu keliru.
Sebaliknya, jaringan khusus Archivo Far menilai keputusan penggunaan video assistant referee (VAR) sudah tepat, yang kemudian diperjelas oleh Pierluigi Collina mengenai prosedur peninjauan proses serangan tersebut. "Biasanya kami tidak suka mengomentari kasus-kasus wasit tertentu selama turnamen, namun baru-baru ini kami telah menjelaskan bagaimana wasit menangani upaya pemain untuk menghalangi kiper, dan oleh karena itu kami merasa perlu mengklarifikasi poin lain yang memicu banyak perdebatan," ujar Collina melalui situs resmi FIFA.
Collina menambahkan bahwa setelah sebuah gol tercipta, wasit video akan meninjau ulang seluruh proses pembangunan serangan jika ditemukan adanya indikasi pelanggaran yang berdampak langsung. "Setelah sebuah gol tercipta, wasit video akan meninjau seluruh proses serangan tersebut. Jika ditemukan pelanggaran selama proses membangun serangan dan hal itu berdampak langsung pada gol, maka wasit video akan merekomendasikan kepada wasit lapangan untuk meninjau ulang adegan tersebut di layar," kata Collina.
Mantan wasit legendaris asal Italia itu juga menegaskan bahwa protokol VAR tidak memberikan batasan waktu atau jarak tertentu antara terjadinya pelanggaran dengan terciptanya gol. "Tidak ada batasan waktu atau jarak tertentu antara pelanggaran dan gol agar hal tersebut dapat dipertimbangkan," tutur Collina. Dalam kasus penganuliran gol Mesir, Collina menjelaskan adanya pelanggaran berupa injakan kaki yang dilakukan oleh pemain Mesir Marwan Attia terhadap pemain Argentina Lisandro Martinez.
"Dalam pertandingan Argentina melawan Mesir, pemain Mesir Marwan Attia dengan jelas menginjak kaki Lisandro Martínez," ungkap Collina.
Ia menegaskan bahwa wasit video memiliki hak penuh untuk melakukan intervensi apabila mendeteksi pelanggaran yang luput dari pengamatan wasit utama di atas lapangan hijau. "Dari sudut pandang kami, pelanggaran tetaplah pelanggaran, terlepas dari seberapa jelas pelanggaran tersebut. Dan jika wasit di lapangan tidak melihatnya, maka wasit video berhak untuk campur tangan," jelas Collina. Terkait insiden tuntutan penalti Mohamed Salah, Collina memaparkan perbedaan antara pelanggaran murni dengan kontak fisik yang wajar ketika bek lawan berhasil menyentuh bola terlebih dahulu.
"Jika tidak terdeteksi adanya pelanggaran selama proses membangun serangan yang berujung pada gol, wasit video akan memberitahukan hal tersebut kepada wasit," sebut Collina.
Menurut tayangan dari sudut pandang baru yang dirilis FIFA, Julian Alvarez terbukti menyentuh bola lebih dahulu sebelum terjadi kontak fisik yang membuat Salah terjatuh di area penalti. "Menginjak kaki lawan dianggap sebagai pelanggaran, namun jika bek menyentuh bola terlebih dahulu lalu terjadi kontak fisik yang wajar setelahnya, maka tidak ada pelanggaran," urai Collina.
Situs resmi FIFA menambahkan bahwa Salah tidak melanjutkan protesnya melainkan langsung bangkit untuk bertahan, sebelum akhirnya Argentina melancarkan serangan balik cepat yang membuahkan gol kemenangan. "Wasit dan wasit video menilai bahwa kontak antara Mohamed Salah dan Julián Álvarez merupakan kontak wajar dalam sepak bola," tegas Collina.
Collina mengakui akan selalu ada ruang bagi penilaian subjektif dalam sepak bola, namun ia menyatakan kepuasannya atas kinerja korps baju hitam sepanjang turnamen berlangsung. "Selalu akan ada ruang untuk penilaian subjektif dalam beberapa keputusan wasit, namun kami puas dengan cara penerapan prinsip-prinsip ini sepanjang turnamen," kata Collina. Di sisi lain, dilansir dari Independent, Collina juga pasang badan merespons tuduhan frontal dari penyerang Mesir Mostafa Zico dan pelatih Hossam Hassan yang menyebut laga telah diatur.
"Sama sekali tidak ada orang yang bisa mengklaim bahwa Perwasitan FIFA dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh Presiden FIFA [Gianni Infantino] sekalipun," cetus Collina.
Collina memperingatkan bahwa narasi negatif tanpa bukti yang dibangun oleh kubu Mesir sangat berbahaya karena bisa memicu ancaman nyata bagi keselamatan wasit beserta keluarganya. "Ketika hal itu terjadi [tuduhan tanpa bukti], dapat memicu reaksi ekstrem yang berujung pada ancaman terhadap mereka dan keluarganya. Ini jelas tidak benar," tukas Collina. Meskipun jadwal padat berpotensi menimbulkan kekeliruan, Komite Wasit FIFA menutup rapat pintu bagi pihak manapun yang mencoba menggoyang integritas institusi pengadil lapangan tersebut.
"Diskusi konstruktif soal keputusan akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, tetapi tuduhan tanpa bukti tidak memiliki tempat di olahraga kita. Tidak ada yang bisa mempertanyakan integritas perangkat pertandingan FIFA," pungkas Collina.