Saham Chip Dongkrak Pemulihan Wall Street di Tengah Ketegangan Geopolitik
Pemulihan melanda bursa saham Wall Street seiring bangkitnya saham-saham raksasa produsen chip. Keuntungan ini juga didukung oleh penurunan harga minyak mentah global.
Para pelaku pasar memilih untuk mengabaikan memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloombergtechnoz, indeks Nasdaq 100 mengalami kenaikan sebesar 1,6 persen.
Sektor semikonduktor mencatatkan lonjakan signifikan hingga 3,1 persen. Langkah ekspansi dipimpin oleh Micron Technology Inc. yang berniat menaikkan investasi pabrik baru di Amerika Serikat menjadi US$250 miliar demi memenuhi permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, pencatatan saham SK Hynix Inc. di Amerika Serikat kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga lebih dari tujuh kali lipat. Kondisi tersebut menegaskan tingginya ketertarikan investor pada produsen chip asal Korea Selatan itu.
Fluktuasi tajam saham teknologi belakangan ini memicu investor mencari kepastian baru terkait prospek sektor AI. Sektor semikonduktor baru saja mencetak kuartal terbaiknya, walau dibayangi kekhawatiran persaingan ketat dan potensi kelebihan kapasitas.
Risiko geopolitik sempat menguat akibat saling lempar serangan udara antara Amerika Serikat dan Iran. Kendati demikian, pasar menilai situasi tersebut sebagai eskalasi yang masih dapat dikendalikan oleh ekonomi global.
"Investor saat ini jauh lebih fokus pada musim laporan kinerja keuangan yang akan datang dibandingkan perkembangan geopolitik," ujar Matt Maley dari Miller Tabak.
Arah pergerakan pasar ke depan diprediksi akan bergantung pada laporan keuangan korporasi. Anthony Saglimbene dari Ameriprise menilai margin keuntungan yang tinggi dan prospek bisnis yang kuat menjadi syarat mutlak untuk menopang valuasi.
Perwakilan Edward Jones, Brock Weimer, menyatakan bahwa pertumbuhan laba perusahaan tetap solid pada 2026. Belum ada tanda-tanda pengurangan belanja anggaran yang signifikan untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Menurut Jeff Buchbinder dari LPL Financial, AI akan tetap menjadi motor utama pasar pada paruh kedua 2026. Namun, investasi akan berjalan lebih selektif dengan fokus pada efisiensi keuntungan hasil investasi.
Sementara itu, lelang obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 30 tahun mencatatkan imbal hasil tertinggi dalam dua dekade. Lonjakan pasokan surat utang membuat investor meminta yield yang lebih tinggi.
Hingga pukul 16.00 waktu New York, indeks S&P 500 menguat 0,8 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average juga merangkak naik sebesar 0,3 persen, sedangkan indeks MSCI World bertambah 0,8 persen.
Di pasar valuta asing, indeks Bloomberg Dollar Spot bergerak stabil tanpa perubahan berarti. Mata uang Euro berada di posisi US$1,1428, Pound sterling naik 0,1 persen ke US$1,3409, dan Yen Jepang menguat 0,1 persen ke level 162,37 per dolar AS.
Sektor aset kripto memperlihatkan pertumbuhan dengan Bitcoin yang naik 1,8 persen menjadi US$63.151,02. Ether menyusul dengan kenaikan 0,6 persen ke level US$1.745,54.
Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mengalami penurunan tiga basis poin menuju 4,55 persen. Yield obligasi Inggris tenor 10 tahun turun delapan basis poin menjadi 4,90 persen, sementara yield Jerman stagnan di 3,08 persen.
Pada sektor komoditas, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 2,2 persen menjadi US$71,87 per barel. Sebaliknya, harga emas spot melonjak 1,1 persen ke angka US$4.121,67 per troy ons.