Timnas Maroko Andalkan Tujuh Pemain Kelahiran Prancis di Piala Dunia
Sebanyak tujuh pemain kelahiran atau besar di Prancis memperkuat tim nasional Maroko untuk menghadapi Prancis dalam laga perempat final Piala Dunia pada Kamis malam, 9 Juli 2026.
Dilansir dari media le Progres, ketujuh pemain bionasional tersebut adalah El Mourabet, El Aynaoui, Yassine, Bouaddi, Diop, Halhal, dan Sbai. Kehadiran mereka menunjukkan pergeseran tren di mana para pemain keturunan kini memilih Maroko sebagai pilihan utama, bukan lagi opsi alternatif akibat tidak dipanggil timnas Prancis seperti situasi 15 tahun lalu.
Federasi Sepak Bola Maroko sejak 2014 telah membenahi struktur organisasi demi menembus kembali Piala Dunia setelah absen dari 1998 hingga 2018. Pemerintah Maroko berinvestasi besar pada infrastruktur kelas dunia seperti Akademi Mohammed VI untuk pembinaan pemain serta pelatih, sekaligus memantau pemain berbakat keturunan sejak usia 12 atau 13 tahun.
Salah satu talenta muda yang terjaring lewat protokol ini adalah Ayyoub Bouaddi yang lahir di Senlis dan sempat berpotensi masuk daftar skuad Didier Deschamps pada usia 18 tahun. Langkah ini menunjukkan daya tarik timnas Maroko saat ini sudah setara dengan negara-negara besar di Eropa.
Keputusan para pemain memilih tim nasional didasari oleh kombinasi antara rencana karier serta sejarah personal masing-masing individu. Gelandang AS Roma berusia 25 tahun, Neil El Aynaoui, menjadi salah satu contoh nyata dari fenomena pemilihan tim nasional tersebut.
"Dengan Maroko, hal itu terjadi secara alami," kata Neil El Aynaoui pada November lalu.
Pilihan karier tersebut melanjutkan jejak ayahnya, Younes El Aynaoui, yang merupakan petenis profesional pertama Maroko dan menduduki peringkat 14 dunia pada 2002. Keputusan Neil El Aynaoui untuk membela skuad Singa Atlas pada September 2025 diakuinya diambil setelah pertimbangan yang matang.
"J'ai été magnifiquement accueilli par le staff et par les joueurs. Il y a une ambiance exceptionnelle entre nous, c'est comme une famille," ujar Neil El Aynaoui terkait kehangatan internal timnas.
Prestasi sepak bola Maroko terus meningkat setelah berhasil menduduki peringkat keempat pada Piala Dunia 2022 serta meraih medali perunggu di Olimpiade 2024. Maroko juga sukses memenangkan gelar juara pada kompetisi Piala Afrika U-23 dan Piala Dunia U-20.
Pemain RC Strasbourg, Gessime Yassine, turut berkontribusi membawa tim U-20 meraih trofi pada Oktober lalu sebelum akhirnya menembus tim nasional senior pada Mei. Pemain sayap ini memiliki motivasi tambahan untuk membanggakan kakeknya yang merupakan mantan pemain divisi dua Maroko di klub JS Kasba-Tadla.
"Porter ce maillot dans une Coupe du monde représente énormément pour moi," aku Gessime Yassine melalui akun media sosial miliknya.
Yassine juga merefleksikan seluruh perjuangan, pengorbanan, dan masa-masa sulit yang telah dilaluinya hingga akhirnya mendapatkan dukungan penuh dari seluruh masyarakat negaranya.
"Penser au chemin parcouru, aux sacrifices, aux moments difficiles et voir aujourd’hui mon pays derrière moi… c’est difficile à expliquer avec des mots," tutur Gessime Yassine mengenai emosinya memperkuat timnas.
Banyak dari pemain bionasional Prancis-Maroko ini mengawali karier mereka di sistem sepak bola usia muda milik Prancis. Samir El Mourabet sempat membela timnas futsal Prancis sebelum masuk pusat pelatihan di Lyon, sementara bek Issa Diop pernah bermain untuk timnas Prancis dari kategori U-16 hingga tim espoirs.
"un choix par défaut," kata Issa Diop pada 2019 saat diwawancarai Canal+ mengenai peluang memilih negara selain Prancis.
Setelah enam tahun berlalu dari pernyataan tersebut, keputusan Issa Diop akhirnya berubah secara total. Bek kelahiran Toulouse tersebut kini turun sebagai pemain starter di babak perempat final Piala Dunia dengan mengenakan seragam tim nasional Maroko.