Ukraina Serang 12 Kapal Tanker Rusia di Laut Azov
Ukraina mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap 12 kapal tanker tambahan di wilayah Rusia selatan. Aksi militer ini memperluas jangkauan operasi Kyiv sekaligus memperburuk kelangkaan bensin di negara tersebut. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, Staf Umum Ukraina menyatakan melalui Telegram bahwa operasi semalam di Laut Azov menyasar kapal-kapal pemasok bahan bakar tentara Rusia.
Armada tersebut juga ditengarai digunakan untuk menghindari sanksi pengangkutan minyak mentah. Selain kapal tanker, serangan itu dilaporkan mengenai sebuah kapal tunda dan satu kapal kargo kering. Pihak Bloomberg sendiri belum dapat memverifikasi jumlah pasti kapal yang terdampak secara independen.
Gubernur wilayah Rostov Rusia, Yury Slyusar, mengonfirmasi dua kapal tanker mengalami kerusakan mekanis di Teluk Taganrog. Menurutnya, kedua kapal sempat terbakar namun api pada salah satu kapal berhasil dipadamkan.
Pasukan Kyiv belakangan ini mengintensifkan serangan ke infrastruktur energi Rusia menggunakan drone. Target operasi mencakup kilang minyak dan depot bensin guna menekan logistik Kremlin agar bersedia bernegosiasi. Imbas gempuran ini, operasional beberapa kilang utama terhenti dan memicu kelangkaan bensin nasional. Pemerintah Rusia kini menerapkan larangan ekspor untuk bensin, bahan bakar jet, serta solar demi mengamankan pasokan domestik.
Krisis Pasokan Bahan Bakar
Komandan pasukan tak berawak Ukraina, Robert Brovdi, menyebut total ada 25 kapal tanker yang telah diserang sepanjang pekan ini. Dua di antaranya bahkan menjadi sasaran sebanyak dua kali. Krisis bahan bakar dilaporkan sangat terasa di Rusia selatan dan area pendudukan Ukraina karena jalur logistik yang rumit. Sejumlah gubernur wilayah Rusia bahkan telah meminta bantuan federal langsung kepada Presiden Vladimir Putin.
Gubernur wilayah Lipetsk, Igor Artamonov, mendesak perusahaan Lukoil PJSC, Rosneft PJSC, dan Gazprom Neft PJSC segera menambah pasokan bensin. Lipetsk terletak sekitar 300 mil dari kota Moskwa. "Ini bukan hanya soal kenyamanan pengendara," kata Artamonov dalam pernyataannya. "Ini soal berfungsinya wilayah ini secara normal, pekerjaan layanan darurat, musim panen, pengiriman bahan pangan, keselamatan publik, dan prioritas nasional."