IHSG Ditutup Menguat 0,67 Persen di Tengah Variasi Bursa Asia

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa positif dengan ditutup menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Pergerakan ini berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham di Asia yang cenderung bergerak variatif dan melemah.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, IHSG mengakhiri sesi perdagangan di posisi 5.912. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 0,67 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya.

Sepanjang hari, indeks bergerak dinamis dengan menyentuh level tertinggi di 5.912 dan level terendah di 5.839. Aktivitas pasar melibatkan transaksi sebanyak 27,11 miliar saham dengan nilai total mencapai Rp12,08 triliun dan frekuensi perdagangan 2,24 juta kali.

Kenaikan indeks didukung oleh menguatnya 327 saham, sementara 275 saham mencatatkan penurunan. Di sisi lain, sebanyak 190 saham memilih bergerak stagnan alias tidak mengalami perubahan harga.

Sektor barang baku, perindustrian, dan transportasi menjadi motor penggerak utama penguatan indeks. Masing-masing sektor tersebut mengalami lonjakan sebesar 2,11 persen, 1,31 persen, dan 1,02 persen.

Beberapa emiten juga mencatatkan kenaikan signifikan dan menjadi top gainer. Saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) melejit 35 persen, disusul PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang melonjak 24,91 persen, serta PT Multi medika Internasional Tbk (MMIX) yang naik 23,62 persen.

Sejumlah bursa regional Asia turut bergerak searah dengan bursa domestik. Indeks CSI 300 (China) naik 2,54 persen, Shenzhen Comp. (China) naik 2,22 persen, SETI (Thailand) naik 2,03 persen, Shanghai Comp. (China) naik 1,65 persen, NIKKEI 225 (Jepang) naik 1,38 persen, Straits Times (Singapura) naik 1,21 persen, KOSDAQ (Korea Selatan) naik 1,15 persen, KOSPI (Korea Selatan) naik 0,62 persen, SENSEX (India) naik 0,37 persen, dan TOPIX (Jepang) naik 0,35 persen.

Namun, pelemahan melanda TW Weighted Index (Taiwan) sebesar 0,83 persen, PSEI (Filipina) sebesar 0,83 persen, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) sebesar 0,71 persen, Hang Seng (Hong Kong) sebesar 0,71 persen, KLCI (Malaysia) sebesar 0,35 persen, dan S&P/ASX 200 (Australia) sebesar 0,26 persen.

Sentimen global dipengaruhi oleh kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir lumpuh total pada Kamis (9/7/2026) setelah AS melancarkan serangan berturut-turut dalam dua hari.

Data pelacakan kapal Bloomberg menunjukkan pelayaran menumpuk di jalur utara yang dikuasai Iran. Sebaliknya, koridor pelayaran Oman yang didukung AS sepi dari lalu lintas kapal akibat kekhawatiran faktor keamanan.

Arus kapal di Selat Hormuz merosot tajam dari 15 kapal pada 6 Juli menjadi hanya 6 kapal, dan terus menyusut hingga menyisakan 5 kapal pada 7 Juli. Angka ini berbanding terbalik dengan rata-rata harian sebelumnya yang mencapai 34 kapal komoditas.

Konflik Washington dan Teheran ini kembali mengguncang pasar energi global. Dampaknya, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat menembus kembali ke atas level US$80 per barel.

Ahli Strategi Pasar Ed Yardeni berpendapat bahwa runtuhnya gencatan senjata ini berisiko mempercepat inflasi baru. Situasi tersebut dinilai berpotensi memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve) untuk menaikkan suku bunga acuan kembali.

Risalah pertemuan FOMC pada 16–17 Juni mengonfirmasi kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi jangka pendek, walau mereka memproyeksikan penurunan seiring meredanya dampak perang tarif dan gangguan pasokan energi.

"Namun demikian, para pejabat tinggi Federal Reserve menilai bahwa risiko terhadap prospek inflasi masih cenderung meningkat," papar Phillip Sekuritas Indonesia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author