Mengenal Sejarah Kopi Timor Leste yang Menjadi Komoditas Ekspor Unggulan

Share

Kopi khas Timor Leste kini menjadi produk specialty yang menjadi komoditas ekspor unggulan dari negara tetangga Indonesia tersebut. Selain dipasarkan secara internasional, produk ini juga banyak beredar di Bali dengan menyasar wisatawan mancanegara. Dilansir dari Detik Travel, sejarah masuknya tanaman komoditas ini ke Timor Leste dimulai saat dibawa oleh bangsa Portugis pada abad ke-17.

Kini, varietas kopi arabika telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di wilayah pedesaan setempat. Perkebunan rakyat dengan skala kecil dapat ditemukan di berbagai kawasan pegunungan. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Ermera, Aileu, Bobonaro, Manatuto, Ainaro, Same, hingga wilayah Likisa.

Komoditas dari kawasan ini memiliki keunggulan alami yang dipengaruhi oleh kondisi tanah serta iklim setempat. Proses penanamannya berjalan secara organik melalui praktik pertanian tradisional di bawah naungan pohon pelindung.

Sistem agroforestri yang diterapkan tersebut terbukti mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mempertahankan kesehatan tanah. Pola budidaya ini memberikan karakteristik rasa yang khas dan diminati pasar global. Salah satu varietas yang terkenal adalah hibrida Timor atau yang disebut Hibrido de Timor. Jenis ini menyajikan profil rasa penuh hingga sedang dengan tekstur lembut, serta tingkat keasaman rendah yang menyegarkan.

Catatan rasa yang sering muncul dari produk ini meliputi aroma gula merah dan cokelat. Karakteristik tersebut berpadu dengan sentuhan rasa tanah yang halus saat dinikmati oleh para pencinta kopi.

Asal-usul Varietas Hibrida Alami

Varietas hibrida ini pertama kali ditemukan di wilayah Timor Leste pada tahun 1917. Tanaman tersebut terbentuk dari persilangan alami yang sangat langka antara spesies kopi arabika dan kopi canephora atau robusta. Secara biologi, perkawinan alami antara kedua jenis ini hampir tidak mungkin terjadi.

Robusta merupakan spesies diploid yang memerlukan penyerbukan silang, sedangkan arabika bersifat tetraploid yang melakukan penyerbukan sendiri. Karakteristik tanaman robusta yang kuat memberikan keunggulan genetik pada hasil persilangan ini. Hibrida Timor mewarisi sedikitnya lima gen yang tahan terhadap serangan penyakit tanaman dari unsur robusta tersebut.

Masyarakat petani setempat mulai membudidayakan varietas hibrida ini sejak dekade 1920-an. Setelah itu, benih dari tanaman ini mulai tersebar luas ke berbagai pulau lain di Indonesia serta dikirim ke lembaga penelitian global.

Para ahli pemuliaan tanaman kemudian memanfaatkan materi genetik hibrida tersebut untuk disilangkan dengan jenis arabika lainnya. Upaya ini dilakukan demi mendapatkan varietas berdaya tahan kuat dengan rasa prima, seperti Sarchmor dan Catimor.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author