Sineas Indonesia Remake Film Horor Gonjiam Haunted Asylum Korea
Rumah produksi MD Pictures dan Umbara Brothers Films resmi merilis film horor terbaru berjudul 402 Rumah Sakit Angker Korea di seluruh bioskop Indonesia pada Kamis, 9 Juli 2026.
Film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini merupakan adaptasi resmi dari film found footage populer asal Korea Selatan berjudul Gonjiam: Haunted Asylum karya sutradara Jung Bum-Shik.
Sebelum didistribusikan di tanah air, sinema ini telah menggelar penayangan perdana dunia atau world premiere di ajang Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026 di Korea Selatan pada 3 Juli, lalu dilanjutkan gala premiere di CGV Grand Indonesia, Jakarta, pada Senin, 6 Juli 2026.
Adaptasi ini berfokus pada kelompok pembuat konten horor Indonesia bernama Para Pencari Hantu yang beranggotakan Juna, Adit, Bara, Arum, Yuri, Tyas, dan Dae-ho.
Mereka melakukan ekspedisi siaran langsung ke Rumah Sakit Yongwon di Korea Selatan demi mengejar target tiga juta penonton, namun penelusuran di ruangan misterius nomor 402 justru mengundang teror supranatural yang mengancam nyawa.
Proses produksi film dilakukan langsung di sebuah bangunan bekas rumah sakit terbengkalai di tengah hutan Korea Selatan untuk menghadirkan atmosfer horor yang nyata tanpa ketergantungan pada efek CGI.
Sutradara film asli Gonjiam: Haunted Asylum, Jung Bum-Shik, turut hadir menyaksikan penayangan perdana tersebut di Korea Selatan dan memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil adaptasi versi Indonesia.
"Adaptasi yang sangat teliti. Saya sangat menikmatinya," kata sutradara "Gonjiam: Haunted Asylum" Jung Bum-Shik melalui keterangan tertulis yang diterima di Ambon, Rabu (8/7).
Anggy Umbara menilai kesempatan penayangan di BIFAN merupakan kehormatan tersendera bagi tim produksi sekaligus apresiasi terhadap karya orisinalnya.
"Kami bangga bisa mendapat kesempatan world premiere di BIFAN, Korea, dan sekarang mempersembahkan film ini untuk penonton Indonesia. Ini adalah film horor paling seram yang pernah saya buat," katanya.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Anggy menjelaskan bahwa pengerjaan film ini menerapkan teknik found footage yang memanfaatkan 28 kamera sekaligus untuk merekam adegan secara bersamaan.
Penggunaan alat bantu kamera atau rigging yang dipasang di tubuh pemain membutuhkan waktu desain selama satu tahun menggunakan teknologi 3D printing berbahan karbon seberat 5 kilogram agar kuat dan fleksibel.
"Jadi ketika izin gol, bener-bener langsung berjalan bareng antara creativity dan teknis. Kreatif ya ngomong sama Lele (penulis) bahwa harus begini. Jadi kita bener-bener pengen bikin film found footage yang bener-bener prosesnya itu dan hasilnya itu terjaga banget kualitasnya," ujar Anggy Umbara.
Tantangan lain yang dihadapi tim produksi adalah proses penyuntingan gambar visual yang membutuhkan waktu hingga tiga hari penuh karena banyaknya jumlah kamera serta pencahayaan yang diminimalkan di lokasi syuting.
"Itu prosesnya satu tahun untuk membuat body rig gitu. Dari mulai kita bubut, desain dulu pakai besi. Ternyata berat sekali kalau pakai besi, kokoh, tapi berat sekali. Kalau untuk adegan berbahaya itu sangat berbahaya," kenang Anggy.
Anggy memutuskan beralih dari material besi ke aluminium untuk mengurangi beban bawaan para aktor saat beradegan.
"Kita ganti lagi dengan aluminium. Aluminium lebih ringan, lebih gampang kita bentuknya. Ternyata peyot dan kurang kuat untuk menahan ada kamera, ada lampu, ada transmitter, ada baterai. Semuanya jadi bener-bener harus didesain khusus," jelas Anggy.
Komponen rig tersebut pada akhirnya disatukan dengan tas punggung sepeda gunung untuk mempermudah penyimpanan baterai dan pemancar sinyal kamera.
"Akhirnya jadilah kesatuan pack itu, makanya agak berat, 5 kg tergantung isinya gitu kan. Kita cetak hampir 20 lebih kita cetak. Sekali rusak, patah, ya udah kita bikin lagi," tutur Anggy.
Anggy juga sengaja membiarkan kamera terus merekam tanpa langsung menghentikan adegan agar reaksi ketakutan para pemeran muncul secara spontan.
"Biasanya syuting cuma satu atau dua kamera, ini 28 kamera. Itu meng-assemble hasil syuting-nya itu berhari-hari. Kalau biasa kan assemble 4 jam atau 6 jam, ini enggak, 3 hari gitu. 24 jam dikali 3," tutup Anggy.
Aktor Jang Han-Sol yang terlibat sebagai salah satu pemeran membagikan pengalamannya mengenai tekanan psikologis akibat suasana gedung rumah sakit tua tersebut.
"Aku cuma pengen billing, coba deh kalian rasain sendiri masuk ke set itu, itu bangunan beneran dan itu bangunan bekas rumah sakit. Vibe-nya bener-bener kerasa masuk di kita," ungkapnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta.
Jang Han-Sol menambahkan bahwa metode penyutradaraan Anggy yang jarang meneriakkan tanda berhenti membuat para pemain terus berjalan ke area gedung yang lebih gelap.
"Adakalanya Mas Anggy ini lupa bilang kalau itu sudah cut, temen-temen. Kita disuruh jalan, Hansol sama Saputra Kori, jalan sampai ruangan itu terus saja ya sampai sana. Harusnya sudah berhenti, tapi masih belum di-cut juga," jelasnya.
Akibat arahan tersebut, Jang Han-Sol sempat terkejut secara nyata saat menemukan pemeran lain yang sudah bersiap di dalam ruangan gelap.
"Masih gak ada cut, jalan lagi, semakin gelap ruangannya semakin gelap. Sudah masuk banget, masih gak di-cut. Ya sudahlah kita coba masuk ke kamarnya, di dalam kamar itu ternyata ada orang, kaget kan kita. Ternyata ada (pemeran) hantu juga sembunyi dari kita," paparnya.
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea ini turut dibintangi oleh jajaran aktor Indonesia seperti Arbani Yasiz, Saputra Kori, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, dan Aylena Fusil.