Rupiah Melemah ke Rp18.084 per Dolar AS Akibat Tekanan Ekonomi Domestik
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada akhir sesi perdagangan Kamis (9/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,47 persen menuju level Rp18.084 per dolar AS.
Kondisi ini terjadi di tengah prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang melandai. Padahal, tekanan dari sektor eksternal dilaporkan sudah mulai berkurang, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Indeks dolar AS tercatat sedikit melemah 0,07 persen ke posisi 100,91 dari sebelumnya 101,03. Harga minyak mentah brent juga turun 1,24 persen menjadi US$77,05 per barel pada pukul 15:01 WIB.
Meredanya harga minyak mendorong penguatan sebagian mata uang di Asia. Baht Thailand memimpin penguatan sebesar 0,17 persen, diikuti oleh yuan China, yen Jepang, yuan offshore, rupee India, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong.
Sebaliknya, pergerakan rupiah justru melemah bersama dengan dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan peso Filipina. Penurunan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik yang saling berkaitan.
Faktor pertama adalah indikator ekonomi yang memperkuat persepsi melambatnya momentum pertumbuhan Indonesia. Hal ini terlihat dari penurunan konsumsi rumah tangga, aktivitas manufaktur, dan indeks keyakinan konsumen.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia teranyar menunjukkan penurunan laju konsumsi yang semakin dalam. Penjualan ritel terkontraksi 3,7 persen secara tahunan pada April, lalu turun lagi 0,39 persen pada Mei, dan diproyeksikan merosot hingga 4,4 persen pada Juni.
Penyebab kedua datang dari S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan untuk potensi reklasifikasi pasar pada 2027. Jika masalah transparansi dan likuiditas tidak diperbaiki, pasar saham Indonesia terancam turun ke kategori special measures atau frontier market.
Faktor ketiga berkaitan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia sebelumnya yang membayangi kondisi fiskal nasional. Indonesia saat ini dinilai masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor energi.
Arus Modal Keluar dan Proyeksi Rupiah
Faktor keempat adalah posisi neraca pembayaran Indonesia yang menyentuh level terlemah sejak 2013. Menurut analisis UBS, penurunan neraca pembayaran dan indeks nilai tukar efektif rupiah setahun terakhir dipicu oleh faktor domestik, yang membuat arus modal jatuh ke level terendah dalam hampir 20 tahun.
Pada saat bersamaan, banyak investor melepas kepemilikan mereka di pasar obligasi pemerintah. UBS menilai rendahnya selisih suku bunga antara Indonesia dan AS menyebabkan aliran modal masuk ke pasar obligasi terus terbatas sejak tahun 2020.
"Arus modal lain yang sensitif terhadap suku bunga, seperti pinjaman dan simpanan, juga turun sekitar 1% terhadap PDB," sebut UBS dalam laporannya.
Berdasarkan data Bloomberg, yield obligasi pemerintah untuk tenor pendek sempat melonjak hingga 13 bps ke level 7,4 persen pada sesi siang. Namun pada pukul 15:20 WIB, yield tenor 1 tahun sedikit memangkas kenaikannya sebesar 5,2 bps menjadi 7,32 persen.
Di sisi lain, UBS menilai ketidakpastian kebijakan domestik ikut memperparah keluarnya arus modal. Kebijakan seperti nasionalisme sumber daya alam serta pengendalian ekspor dan devisa memicu terjadinya under-invoicing ekspor dan melemahkan investasi sektor swasta.
UBS memproyeksikan pelemahan rupiah secara bertahap akan terus berlanjut. Nilai tukar diperkirakan bergerak pada rentang Rp18.500 hingga Rp19.000 per dolar AS pada semester II-2026.
Sementara itu, pada pukul 15:25 WIB, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih mencatat pelemahan sebesar 0,21 persen ke posisi Rp18.155 per dolar AS setelah dibuka stagnan di level Rp18.117 per dolar AS pada pagi hari.