Iran Jadikan Lebanon Poin Krusial Negosiasi dengan AS

Share

Pemerintah Iran menjadikan status Lebanon sebagai poin krusial dalam negosiasi damai dengan Amerika Serikat pada Rabu, 8 Juli 2026. Langkah ini diambil melalui Nota Kesepahaman guna meredakan perang Israel-Hezbollah sekaligus mengamankan pengaruh Teheran di Levant. Dilansir dari Manara Magazine, Iran mendesak penghentian konflik di seluruh lini, termasuk Lebanon, sebelum melanjutkan pembicaraan.

Negosiasi tersebut mencakup pelonggaran sanksi minyak, program nuklir, dan keamanan di Selat Hormuz. Hezbollah, sekutu utama Teheran, mengalami kerugian besar akibat gempuran Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sejak 2024. Melalui negosiasi yang dimediasi Pakistan, Iran mengikat status Lebanon dengan kesepakatan damai permanen demi menahan kehancuran kelompok tersebut.

Strategi ini memicu keretakan hubungan antara Amerika Serikat dan Israel. Teheran berupaya mengeksploitasi gesekan di antara kedua sekutu tersebut sembari mempertahankan pengaruh militernya di Timur Tengah.

Ketegangan militer meningkat saat Hezbollah menembakkan beberapa proyektil ke Israel utara pada 2 Maret 2026. Serangan yang terjadi tak lama setelah perang Iran dimulai ini berhasil mengalihkan fokus dan sumber daya militer Israel. Meski berhasil memberikan perlawanan lewat kemampuan drone FPV, Hezbollah kini kesulitan mempertahankan kapasitas tempurnya. Di sisi lain, militer Israel juga mengalami krisis kekurangan personel akibat pengerahan pasukan yang terlalu lama di Lebanon.

Situasi ini memperparah pembelahan sektarian di internal Lebanon, di mana mayoritas warga menghendaki pelucutan senjata Hezbollah. Selain itu, keuangan pemerintah Lebanon melemah drastis akibat gelombang pengungsian warga Syiah dari wilayah selatan. Langkah Iran mengaitkan Hezbollah dengan Nota Kesepahaman juga dirancang untuk menekan pemerintahan Donald Trump pada tahun politik 2026. Pembatasan di Selat Hormuz sebagai jalur energi dunia dapat memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Kondisi ekonomi tersebut dihindari oleh Washington yang telah menguras Cadangan Minyak Strategis (SPR). Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan domestik menjelang pemilu Israel pada musim gugur mendatang. Pemerintah Israel mengecam berakhirnya perang Iran tanpa tercapainya tujuan militer mereka sepenuhnya. Sikap ambigu pemerintahan Trump mengenai posisi pasukan IDF di Lebanon kini berpotensi mengancam keberlanjutan kesepakatan damai tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author