Kurva Imbal Hasil SUN Mengalami Inversi pada Juli 2026

Share

Pasar Surat Utang Negara (SUN) mencatat fenomena kurva imbal hasil terbalik atau inverted yield curve pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, yang dipicu oleh antisipasi investor terhadap perlambatan ekonomi, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Data pasar obligasi menunjukkan bahwa imbal hasil (yield) instrumen jangka pendek bergerak naik melampaui surat utang jangka panjang. Pada pukul 10:14 WIB, yield tenor 1 tahun melonjak 13 basis poin (bps) hingga menyentuh angka 7,4 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan yield tenor 3 tahun yang berada di level 7,22 persen, menciptakan selisih sekitar 18 bps. Sementara itu, yield tenor 10 tahun tercatat hanya naik tipis 0,4 bps ke level 7,29 persen, berada di bawah yield tenor 15 tahun yang bertengger di posisi 7,31 persen setelah turun sekitar 9,1 bps.

Kondisi pasar ini mencerminkan perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter ke depan. Penurunan yield jangka panjang di bawah jangka pendek menunjukkan investor bersedia menerima kompensasi lebih rendah untuk penguncian dana jangka panjang demi menghindari risiko jangka pendek.

Head of Research Shinhan Sekuritas, Helmi Therik mengonfirmasi bahwa fenomena kurva terbalik ini merupakan indikator awal bagi potensi resesi ekonomi, walaupun dampaknya saat ini belum terlihat secara nyata di pasar domestik.

"Tapi dengan ekspektasi pasar atas arah kebijakan moneter di domestik yang menaikan suku bunga dan bersamaan dengan itu US treasury yield yang juga meningkat maka pasar mengantisipasi perlambatan ekonomi dalam beberapa kuartal kedepan," kata Helmi, Head of Research Shinhan Sekuritas.

Menurut penjelasannya, ekspektasi pasar terhadap penurunan laju ekonomi dalam beberapa kuartal mendatang memicu yield obligasi jangka panjang berada di bawah instrumen jangka pendek.

"Berkali-kali inverted menggambarkan ekspektasi pasar atas perlambatan ekonomi, apalagi ditengah melemahnya kapasitas fiskal sebagai shock absorber dalam menahan skenario perlambatan ekonomi tersebut," kata Helmi, Head of Research Shinhan Sekuritas.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah disarankan untuk memperkuat kapasitas fiskal dan menciptakan ruang yang cukup demi menjalankan kebijakan counter cyclical spending. Langkah peninjauan ulang terhadap program-program pemerintah yang dinilai boros juga diperlukan agar ruang anggaran menjadi lebih longgar.

"Di sisi moneter mungkin bila perlambatan berlanjut maka perlu pelonggaran atas kebijakan makroprudensial misal terkait loan to value dan counter cyclical capital buffer," kata Helmi, Head of Research Shinhan Sekuritas.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: makroekonomi sun yield curve
Editors Team
gilang-permana-putra
Author