Brian Yuliarto Meminta Penerima Beasiswa Garuda Kembali ke Indonesia

Share

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto meminta para mahasiswa penerima Beasiswa Garuda untuk tidak takut kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan masa studi mereka di luar negeri.

Permintaan tersebut disampaikan dalam Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Batch 1 Awardee Beasiswa Garuda Tahun 2026 di Graha Diktisaintek, Jakarta, Kamis (9/7/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Para penerima program sarjana ini memikul kewajiban memberikan kontribusi nyata bagi tanah air sekurang-kurangnya dua kali masa studi, dengan skema yang diatur oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek).

"Nah saya sering mendapat pertanyaan para lulusan beasiswa LPDP nggak pulang ke Indonesia. Dia kemudian mengeluh, 'Wah saya tidak dapat pekerjaan yang sesuai, saya tidak difasilitasi', Saya selalu jawab, Anda adalah putra-putri yang jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan yang tidak mendapatkan beasiswa keluar negeri. Kalau Anda mendapat beasiswa, Anda sudah terbaik. Kalau Anda terbaik, kenapa Anda harus takut bertarung di Indonesia melawan yang tidak bisa keluar negeri?," ucap Brian Yuliarto.

Menteri Dikti Saintek menekankan bahwa para alumni semestinya memiliki kesiapan mental yang kuat dan berani menghadapi tantangan dunia kerja domestik tanpa bergantung pada fasilitas instan.

"Jadi jangan takut, jangan nanti setelah lulus, 'Wah di Indonesia nggak ada yang memfasilitasi saya', Tidak mungkin Anda sekarang sudah dapat fasilitas. Anda nanti harus berani bertarung di sini," sambung Brian Yuliarto.

Dalam kesempatan tersebut, peraih gelar Ph.D tahun 2005 dari The University of Tokyo ini turut membagikan pengalaman pribadinya yang pernah bekerja sebagai petugas pembersih kereta saat menempuh studi di Jepang.

"Saya mencari sendiri, saya dapat dan saya pulang ke sini. Gak pakai takut-takut begitu. Jadi Anda semua harus berani. Anda kalau gak ada bidangnya, gak ada yang sesuai, Anda buat di Indonesia," kata Brian Yuliarto.

Ia berharap pembekalan ini mampu menumbuhkan kemampuan bertahan hidup serta daya juang tinggi bagi mahasiswa dalam menavigasi seluruh fase pendidikan.

"Jadi ini adalah satu perjalanan panjang. Dan ini perjalanan yang tidak mudah," lanjut Brian Yuliarto.

Kendati aturan kontribusi bersifat mengikat, pemerintah tetap membuka ruang pelonggaran bagi alumni yang mendapatkan peluang akademik lanjutan di luar negeri.

"Beberapa pendekatan ya, misalnya ternyata menerima diterima juga di sekolah lanjut S2, beasiswa dari profesornya, nanti kita akan relaksasi. Artinya kita sudah membuat aturan, namun tidak kaku. Karena ketika mereka justru terbuka peluang pengembangan diri lebih lanjut, kenapa tidak kita fasilitasi lagi, begitu. Misalnya, pulangnya ditunda, tetapi mereka bisa bersekolah lagi," tutur Brian Yuliarto.

Saat ini, tercatat sebanyak 390 pelajar telah lolos dalam seleksi Beasiswa Garuda Batch 1 2026, sementara proses seleksi untuk gelombang kedua masih berjalan.

Fasilitas yang diberikan mencakup pendanaan penuh kuliah S1 di luar negeri maupun skema joint degree, program magang di BUMN, hingga konversi kredit matakuliah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author