Mencampur Pertalite dan Pertamax Turbo Picu Kerusakan Mesin Kendaraan

Share

Pemilik kendaraan kerap mencari metode alternatif untuk menghemat biaya operasional akibat lonjakan harga bahan bakar minyak. Salah satu tren yang muncul adalah mencampur Pertalite dengan Pertamax Turbo. Metode pencampuran tersebut menggunakan formula perbandingan 3 banding 1.

Upaya ini dilakukan demi mendapatkan bahan bakar setara oktan 92 dengan harga yang lebih murah. Langkah mencampur dua jenis bahan bakar dengan kandungan oktan berbeda tersebut dinilai keliru. Pertalite memiliki kandungan RON 90, sedangkan Pertamax Turbo mempunyai spesifikasi RON 98.

Dilansir dari Detik Oto, asumsi mengenai kombinasi 75 persen Pertalite dan 25 persen Pertamax Turbo dapat menghasilkan bahan bakar RON 92 yang stabil adalah tidak benar.

"Hasil akhir di dalam ruang bakar sangat bergantung pada tekanan dan suhu pembakaran aktual. Dampak langsungnya, konsentrasi Ignition Boost Formula pada RON 98 akan mengalami penurunan drastis hingga kehilangan fungsinya," begitu penjelasannya. Kebiasaan memadukan dua jenis bahan bakar ini secara rutin memicu tiga risiko utama pada kendaraan.

Dampak pertama dari pencampuran bahan bakar tersebut adalah meningkatnya risiko knocking pada mesin kendaraan. Mesin dengan kompresi tinggi memerlukan kualitas bahan bakar yang konsisten. Kondisi pasokan bahan bakar yang tidak konsisten dapat memicu gejala menggelitik. Hal tersebut berpotensi mempercepat proses keausan pada komponen internal mesin.

Dampak kedua berkaitan dengan kinerja Electronic Control Unit atau ECU kendaraan. Komponen elektronik ini dipaksa untuk terus melakukan penyesuaian waktu pembakaran akibat kualitas bahan bakar yang berubah-ubah. Proses adaptasi ECU yang berjalan terus-menerus memicu penurunan performa mekanis.

Kondisi ini juga membuat konsumsi bahan bakar kendaraan menjadi lebih boros daripada biasanya. Sensor pada sistem kendaraan harus bekerja lebih keras karena ketidaksesuaian spesifikasi bakar. Masalah ketiga yang mengintai adalah kondisi komponen injektor yang menjadi lebih cepat kotor.

Kualitas proses pembakaran yang tidak berjalan optimal mempercepat akumulasi penumpukan kerak. Dalam jangka panjang, performa keseluruhan dari mesin kendaraan akan mengalami penurunan.

Anjuran Spesifikasi Pabrikan

Efek dari penurunan performa tersebut berujung pada membengkaknya biaya perawatan berkala kendaraan. Pemilik kendaraan dianjurkan tetap memakai satu jenis bahan bakar murni yang sesuai spesifikasi pabrikan. Panduan mengenai jenis bahan bakar yang tepat dapat dilihat pada buku manual kendaraan.

Setiap kendaraan pada umumnya dirancang untuk beroperasi dengan satu jenis bahan bakar saja. Dokumentasi resmi pada buku panduan mobil umumnya mencantumkan instruksi khusus. Petunjuk tersebut mewajibkan penggunaan bahan bakar bensin tanpa timbal dengan angka oktan 92 atau lebih tinggi.

"Mengabaikan kebutuhan riil mesin demi menekan biaya jangka pendek justru berisiko mendatangkan biaya perbaikan yang jauh lebih besar di kemudian hari," demikian penjelasannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author