Bank Indonesia Catat Penjualan Ritel Mei 2026 Alami Kontraksi 3,9 Persen

Share

Bank Indonesia (BI) mengumumkan kinerja penjualan eceran atau ritel di Indonesia mengalami kontraksi sebesar 3,9 persen secara tahunan (yoy) pada Mei 2026, dengan situasi serupa yang diproyeksikan berlanjut hingga Juni 2026.

Penurunan performa tersebut tercermin melalui Indeks Penjualan Riil (IPR) periode Mei 2026 yang berada di angka 223,4, berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran terbaru yang dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (9/7/2026). Angka penyusutan ini tercatat lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada bulan sebelumnya yang mencapai 3,7 persen yoy.

Pihak bank sentral merinci performa dari berbagai kelompok komoditas, di mana beberapa sektor terpantau masih mampu memberikan sokongan pertumbuhan di tengah pelemahan keseluruhan pasar ritel nasional.

"Sejumlah kelompok masih mencatatkan pertumbuhan dan menjadi penopang pada periode laporan, antara lain Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (indeks 150,1, tumbuh 11,2% yoy); Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (indeks 107,0, tumbuh 0,3% yoy), serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (indeks 57,5, tumbuh 0,2% yoy). Sementara itu, kelompok lainnya diprakirakan masih berada dalam fase kontraksi terutama pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (indeks 317,9, terkontraksi 4,1% yoy), Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi (indeks 68,7, terkontraksi 18,4% yoy), serta Subkelompok Sandang (indeks 79,1, terkontraksi 12% yoy", papar laporan BI.

Jika ditinjau secara bulanan (mtm), performa perdagangan eceran pada Mei 2026 menyusut sebesar 1,5 persen. Walau demikian, catatan ini menunjukkan perbaikan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode April 2026 yang sempat merosot tajam hingga 11,6 persen mtm.

Dorongan terhadap perbaikan performa bulanan tersebut dipicu oleh terjaganya aktivitas belanja masyarakat selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti peringatan Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

"Perbaikan tersebut didorong oleh peningkatan kinerja Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi dan Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang masing-masing tumbuh 1% mtm dan 1,3% mtm, setelah pada April masing-masing tercatat sebesar -9,4% mtm dan 0,2% mtm. Selain itu, kelompok lainnya juga menunjukkan perbaikan yang tecermin dari kontraksi yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, terutama pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-1,3% mtm), Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (-4,2%,mtm), dan Subkelompok Sandang (-11%, mtm). Perkembangan tersebut didorong oleh terjaganya permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak," jelas laporan BI.

Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan IPR untuk periode Juni 2026 akan menyentuh level 221,6 atau mengalami penurunan sebesar 4,4 persen yoy, dengan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya tetap positif.

Secara bulanan, penjualan eceran Juni 2026 diproyeksikan turun 0,8 persen mtm, yang berarti lebih baik ketimbang kontraksi 1,5 persen mtm pada bulan sebelumnya seiring mulainya masa libur sekolah.

"Perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya kinerja penjualan pada Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya (1,9%, mtm) dan Subkelompok Sandang (4,7%, mtm) seiring mulai masuknya periode liburan sekolah pada akhir Juni. Sementara itu, Kelompok Barang Budasi dan Rekreasi (-2% mtm), Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (-3,1% mtm), serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-0,7% mtm) mengalami perbaikan dari periode sebelumnya meski masih tertahan di zona kontraksi," demikian laporna BI.

Dari aspek pergerakan harga, tekanan inflasi pada Agustus 2026 diproyeksikan menguat dengan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) sebesar 178 karena kenaikan harga bahan baku, sedangkan IEH November 2026 diperkirakan stabil pada level 167,5.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author