Polisi Sita Rp 476 Miliar dari Brankas Kasus Korupsi Sentul
Kepolisian Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bersama Polda Metro Jaya menyita barang bukti senilai Rp 476 miliar dari sebuah brankas rahasia di dalam rumah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026) dini hari.
Penyitaan besar-besaran ini dilansir dari Detikcom terkait dengan pengusutan tiga kasus dugaan korupsi besar, yakni di PT PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel. Di dalam brankas yang disembunyikan di balik dinding tersebut, petugas menemukan emas batangan seberat 74 kilogram dan pecahan uang asing.
Untuk membuka tempat penyimpanan khusus tersebut, pihak kepolisian meminta bantuan dari seorang spesialis pembuka kunci luar ruangan.
"Tadi sama Polres Bogor dipanggil, ditelepon suruh datang ke sini, suruh bantu katanya ada kerjaan suruh bongkar brankas," kata Roy, ahli kunci asal Ciawi Bogor saat ditemui di Sentul, Bogor, Kamis (9/7/2026).
Roy menjelaskan bahwa pengamanan kotak penyimpanan tersebut sangat berlapis karena termasuk barang mewah yang berkualitas tinggi. Proses intervensi mekanis terpaksa dilakukan menggunakan alat pemotong karena kuatnya konstruksi pelindung baja.
"Istimewa itu brankasnya. Perkiraan harganya Rp 20 jutaan lebih. Sistem keamanannya bagus.
Kuncinya pakai kombinasi putar, sama kunci manual. Jadi dua kunci, brankas canggih itu, mahal. Bajanya ada dua lapis, jadi memang bukan brankas besi kotak gitu," kata Roy.
Setelah berhasil merusak sistem mekanis penutupnya, pengerjaan bagian inti pelindung dilakukan secara cepat dalam hitungan menit.
"(Di dalam) Langsung aja, gerak cepat, langsung digurinda, langsung dibuka. Kurang lebih 15 menitan," imbuh Roy.
Ahli kunci tersebut menambahkan bahwa struktur penyimpanan tersebut sebenarnya berbentuk ruangan tersembunyi berukuran besar yang disamarkan di balik perabotan rumah tangga di lantai atas.
"Posisi brankas di lantai dua, di kamar. Jadi itu kayak ditutup lemari. Ukuran kurang lebih 1 meteran lebih, 1,5 meter x 80 cm.
Posisinya dalam tembok itu pak. Jadi itu pintu brankas, di dalamnya ruangan, bukan brankas umumnya yang kotak besi, tapi ruangan," kata Roy.
Dari posisi luar pintu, ia juga sempat melihat adanya wadah penyimpanan portable berukuran besar di dalam ruangan tersembunyi tersebut.
"Di dalam (ruangan) lihat ada koper, tapi saya lihat dari luar, kan nggak masuk," imbuh Roy.
Berdasarkan keterangan resmi otoritas kepolisian, seluruh aset yang tersimpan di dalam ruangan besi tersebut langsung dihitung nilainya setelah proses pembongkaran selesai dilakukan.
"Ditemukan brankas terkunci, setelah dibuka berisi tujuh koper. Yang pertama 74 kg emas batangan, kemudian 4.767.300 USD. Kemudian 14.083.800 SGD, kemudian 100 juta rupiah. Estimasi total dalam rupiah senilai Rp 476 miliar," kata Totok di Perumahan Bogor Golf Hijau, Kamis (9/7/2026) dini hari.
Pihak humas kepolisian daerah menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap perkara penyelewengan anggaran dan pencucian uang di tiga institusi tersebut dipantau langsung oleh pimpinan tertinggi negara.
"Ini merupakan atensi Bapak Presiden untuk dugaan-dugaan kasus korupsi menjadi perhatian kepolisian untuk melaksanakan pengungkapan dan proses penyidikan. Rangkaian penggeledahan ini bagian dari proses penyidikan di dalam mencari, mengumpulkan barang bukti untuk pemenuhan dalam proses penyidikan," kata Budi Hermanto seusai penggeledahan di Cafe de'Clan, Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (8/7).
Aktivitas penggeledahan dilakukan secara simultan di beberapa lokasi komersial untuk mendalami suap dan gratifikasi, termasuk perkara yang menyebabkan gangguan listrik besar di wilayah Sumatera.
"Dari Kortas Tipikor bersama Polda Metro Jaya dalam melakukan penyidikan dugaan kasus korupsi meliputi suap, gratifikasi, dan pencucian uang. Ada beberapa lokasi saat ini secara serempak dilaksanakan rangkaian penggeledahan, termasuk di lokasi sekarang di Cafe de'Clan dan Coin Money Changer. Ini kaitan tentang dugaan korupsi blackout batu bara PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel," ujar Budi.