Harga Emas Dunia 9 Juli 2026 Melemah Akibat Konflik Amerika Serikat dan Iran
Harga emas dunia bertahan di zona pelemahan setelah serangan hari kedua Amerika Serikat terhadap Iran memicu kenaikan harga energi. Peristiwa ini turut memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi. Emas batangan atau bullion bergerak ke kisaran US$4.080 per ons setelah mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan bahwa gempuran terbaru ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Tindakan militer tersebut terjadi beberapa jam usai Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan gencatan senjata telah berakhir.
Di sisi lain, pihak Teheran melontarkan ancaman untuk melancarkan operasi balasan dalam skala besar yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini membuat harga minyak melonjak setelah Washington mencabut pengecualian yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyak mentah ke pasar global.
Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru bagi para pelaku pasar emas mengenai kebijakan bank sentral. Federal Reserve dinilai berpotensi mempertahankan suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama demi meredam inflasi yang masih membandel.
Risalah rapat The Fed bulan Juni menunjukkan sejumlah pejabat melihat adanya alasan kuat untuk menaikkan suku bunga, walau akhirnya mereka sepakat memilih opsi mempertahankan tingkat bunga. Secara umum, dokumen tersebut memperlihatkan kecemasan mendalam para pejabat bank sentral terhadap inflasi, sementara kekhawatiran pada sektor tenaga kerja mulai berkurang. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan imbal hasil.
Analis Vantage Markets yang berbasis di Melbourne, Hebe Chen, menilai pergerakan awal emas yang cenderung tenang pada Kamis lebih mencerminkan keraguan pasar sebelum datangnya badai baru.
"Pasar telah mendengar lonceng peringatan dari Timur Tengah, tetapi belum memperlakukannya sebagai krisis berskala penuh." Sejak ketegangan dengan Iran pecah pada akhir Februari, harga emas telah merosot lebih dari 20% akibat aksi ambil untung yang menghentikan tren penguatan selama tiga tahun terakhir. Tekanan tersebut baru-baru ini sempat menyeret harga logam mulia ini hingga berada di bawah level US$4.000 per ons.
Kendati demikian, sejauh ini belum terlihat bukti kuat bahwa investor mulai membuka posisi jual dalam skala besar demi mengantisipasi penurunan harga yang lebih dalam.
Hebe Chen menambahkan bahwa para pelaku pasar saat ini tengah mengamati perkembangan risiko geopolitik tersebut. "Para trader tengah mengamati apakah risiko ini akan berkembang dari sekadar kejutan akibat berita menjadi awal dari siklus baru ketegangan geopolitik, serta seberapa besar dampak rambatannya," kata Hebe Chen.
Menurut Hebe Chen, harga emas kemungkinan besar masih akan bergerak dalam pola konsolidasi sampai didapatkan kepastian yang lebih jelas. Pada pukul 07.48 waktu Singapura, harga emas spot tercatat turun 0,1% menjadi US$4.073,48 per ons, sedangkan harga perak naik 0,2% ke level US$58,39 per ons.
Komoditas platinum dan paladium juga terpantau menguat tipis, sementara Bloomberg Dollar Spot Index bergerak relatif stabil setelah ditutup sedikit melemah pada sesi sebelumnya.