Donald Trump Akhiri Gencatan Senjata Amerika Serikat dengan Iran

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengakhiri kesepakatan gencatan senjata dengan Iran setelah adanya eskalasi serangan militer antar kedua negara di kawasan Teluk pada Rabu (8/7/2026). Ketegangan baru ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, di mana varian Brent North Sea melesat 5,3 persen ke angka USD 78,09 per barel dan West Texas Intermediate naik 5,4 persen menjadi USD 74,23 per barel, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Keputusan penghentian kesepakatan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung di Ankara, Turki.

"Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir," kata Trump ketika ditanya mengenai status gencatan senjata tersebut.

Mantan presiden yang kembali memimpin AS itu menilai bahwa melanjutkan diplomasi dengan Teheran merupakan tindakan yang tidak produktif bagi negaranya. "Hanya membuang waktu berurusan dengan mereka," cetus Trump seperti dilansir AFP.

Meskipun Trump berencana mendiskusikan situasi ini dengan tim negosiator AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ia menegaskan keputusan kembali berunding sepenuhnya berada di tangan pemerintah Iran. "Sejauh yang saya ketahui, berurusan dengan mereka hanya membuang-buang waktu." "Mereka pembohong," kata Trump.

Lebih lanjut, ia menuduh pihak Iran berulang kali melakukan pelanggaran terhadap poin-poin kesepakatan perdamaian yang ditandatangani pada 17 Juni lalu tersebut. "Semua orang setuju, tidak ada senjata nuklir. Kita membuat kesepakatan.

Mereka keluar, bercanda kepada pers, mereka mengatakan kita bahkan tidak pernah membicarakannya," ujar Trump. Sebelum pengumuman tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan operasi ofensif yang menghantam lebih dari 80 target pertahanan udara, situs rudal, dan kapal militer IRGC di Selat Hormuz.

Melalui pernyataan di media sosial X, serangan udara masif tersebut diklaim sebagai respons langsung atas tindakan Iran yang sebelumnya menyerang kapal komersial sipil di jalur internasional.

Sebagai jawaban atas tindakan Pentagon, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) segera meluncurkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Bahrain serta Kuwait. "Sebagai respons awal terhadap agresi ini, Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 fasilitas militer AS utama di kedua negara tersebut, sekaligus menembak jatuh sebuah drone MQ-9," kata IRGC dalam siaran stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB. Pihak militer Iran menyatakan serangan balasan itu berhasil mengenai sasaran strategis, termasuk pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author