Saham AS Bangkit di Tengah Ketegangan Hubungan Amerika Serikat-Iran
Pasar saham Amerika Serikat berhasil memulihkan sebagian besar kerugian besar pada awal perdagangan hari Rabu, 8 Juli 2026, setelah kekhawatiran eskalasi konflik dengan Iran memicu lonjakan harga energi, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Indeks Nasdaq 100 yang padat teknologi ditutup menguat 0,3 persen, sedangkan S&P 500 hanya melemah 0,3 persen setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 1,1 persen ke arah rata-rata pergerakan 50 hari.
Pelemahan pasar ini dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir dan menyebutnya sebagai tindakan buang-buang waktu, yang diikuti oleh serangan baru AS dan pencabutan pengecualian penjualan minyak Iran.
Kondisi tersebut langsung melambungkan harga minyak Brent sebesar 5,9 persen dan mendorong penguatan saham-saham energi seperti Chevron Corp., Venture Global Inc., dan Diamondback Energy Inc.
Kepala Strategi Ekuitas AS di Citigroup Global Markets Inc., Scott Chronert, memberikan analisisnya mengenai pergerakan pasar yang fluktuatif ini dalam catatan riset terbarunya.
"Untuk saat ini, kami menganggap ini sebagai pembalikan arah jangka pendek. Kami tidak memiliki informasi mengenai negosiasi yang berlangsung di balik layar, tetapi kami tetap berpandangan bahwa Presiden Trump berfokus mengakhiri konflik ini," tulis Scott Chronert, Kepala Strategi Ekuitas AS di Citigroup Global Markets Inc.
Chronert juga memperingatkan adanya ujian berat bagi momentum pasar ke depan.
"Namun, perubahan sentimen yang mendukung penguatan pasar secara lebih luas, terutama ketika saham-saham teknologi belakangan mulai kehilangan momentum, akan benar-benar diuji," kata Scott Chronert, Kepala Strategi Ekuitas AS di Citigroup Global Markets Inc.
Di sisi lain, ahli strategi pasar Ed Yardeni memperingatkan bahwa kegagalan gencatan senjata ini berisiko mempercepat inflasi baru yang dapat memaksa Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan.
Kekhawatiran terhadap inflasi ini sejalan dengan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 16–17 Juni yang dirilis Rabu, menunjukkan mayoritas pembuat kebijakan melihat adanya alasan kuat untuk menaikkan suku bunga.
Di tengah volatilitas pasar, investor juga mencermati sentimen korporasi seperti langkah investasi Apple Inc. senilai lebih dari US$30 miliar dengan Broadcom Inc., serta rencana OpenAI merilis model kecerdasan buatan tercanggihnya secara global pada hari Kamis.