Panitia Wimbledon 2026 Ungkap Penyebab Banyak Kursi Kosong di Lapangan Utama

Share

Panitia All England Lawn Tennis Club (AELTC) memberikan penjelasan terkait fenomena banyaknya kursi kosong di Lapangan Utama dan Lapangan Satu sepanjang turnamen Wimbledon 2026 di London, Inggris, yang dilaporkan pada Juli 2026.

Dilansir dari BBC, fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengingat status tiket turnamen yang selalu habis terjual setiap tahun dan antrean penonton yang mengular sangat panjang. Salah satu aturan utama yang menjadi penyebabnya adalah penonton hanya diizinkan meninggalkan atau kembali ke kursi mereka saat pemain bertukar posisi setiap dua gim.

Kondisi tersebut membuat penonton yang keluar untuk membeli makanan, minuman, atau ke toilet harus mengantre lama dan melewatkan sebagian besar jalannya pertandingan sebelum diizinkan masuk kembali. Selain itu, pemegang tiket Lapangan Utama juga memiliki akses ke lapangan luar, sehingga banyak dari mereka memilih menyaksikan laga di tempat lain.

Faktor cuaca panas tinggi seperti tahun sebelumnya juga membuat sebagian penonton memilih mencari tempat berteduh. Ditambah lagi, durasi pertandingan yang dimulai pukul 11.00 BST dan dapat berlangsung hingga 12 jam membuat beberapa penonton datang terlambat atau pulang lebih awal karena menyesuaikan rencana perjalanan mereka.

Untuk memitigasi hal ini, panitia memulai laga di Lapangan Satu pada pukul 13.00 BST dan Lapangan Utama pada pukul 13.30 BST agar stadion terisi maksimal. Penonton yang pulang lebih awal diizinkan mengembalikan tiket mereka ke pihak AELTC untuk dijual kembali kepada pengunjung dengan harga lebih murah, yaitu 15 poundsterling untuk Lapangan Utama dan 10 poundsterling untuk Lapangan Satu.

Di sisi lain, minat masyarakat terhadap olahraga langsung di Inggris sedang melonjak tajam yang dipicu oleh rasa takut tertinggal momen atau FOMO. Berdasarkan laporan Observer, antrean untuk mendapatkan tiket Wimbledon melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 8.000 orang pada Jumat pagi sebelum kereta bawah tanah pertama tiba, menyebabkan panitia harus memberlakukan antrean cadangan.

Namun, sebuah ulasan dari Spectator menyoroti bahwa banyak pengunjung yang datang ke SW19 bukan semata-mata demi menyaksikan pertandingan tenis, melainkan untuk menikmati atmosfer sosial seperti meminum Pimm's, bersantai di Henman Hill, hingga berburu pernak-pernik di toko resmi.

Seorang agen tenis asal Argentina memberikan tanggapannya mengenai suasana turnamen tertua di dunia tersebut saat berbicara di area ruang tunggu pemain.

"Why are you even here?" tanya agen tenis Argentina tersebut.

Ia menambahkan penjelasannya mengenai prestise turnamen ini meskipun seluruh pemain tunggalnya telah tersingkir pada hari ketiga.

"This is the oldest tournament in the world! It’s the best!" kata agen tenis Argentina tersebut.

Di area toko suvenir yang menjual berbagai pernak-pernik mahal, seorang jurnalis sempat bertanya kepada petugas mengenai barang dengan harga tertinggi di tempat itu.

"What’s the most expensive thing here?" bisik jurnalis tersebut.

Petugas toko kemudian menunjuk ke sebuah boneka stroberi besar yang memiliki ekspresi wajah meringis.

"I’m pretty sure that’s like £500." kata asisten toko tersebut.

Jurnalis itu lantas menanyakan apakah ada pengunjung yang telah membeli boneka mahal tersebut.

"God, no." kata asisten toko tersebut.

Ia juga menambahkan informasi mengenai statusnya sebagai pekerja di toko suvenir resmi wimbledon tersebut.

"No! I just look at them instead." kata asisten toko tersebut.

Wimbledon dikenal sangat memegang teguh tradisi lamanya, bahkan beberapa detail kecil baru disadari oleh publik dan sejarawan klub pada turnamen tahun ini.

"Not very many people knew that until this year," kata Sarah Edworthy, seorang jurnalis.

Ia mengungkapkan bahwa pertandingan pembuka setiap tahun dipimpin oleh wasit yang memimpin laga final tahun sebelumnya.

"Even the club historian didn’t know." kata Sarah Edworthy.

Saat sore hari mulai mendingin, seorang pemain bintang yang diduga Jannik Sinner terlihat berjalan keluar dari pusat media menuju pintu keluar, memicu reaksi dari para pengunjung di sekitarnya.

"It’s… oh my God… I can’t… I can’t remember his name!" kata seorang wanita yang terkesima.

Ia mencoba menjelaskan penilaiannya terhadap sosok pemain tenis profesional yang melintas tersebut.

"We like him, though. He’s a good guy." kata wanita yang terkesima tersebut.

Sementara itu, seorang pengunjung lain yang sedang sibuk mengambil gambar pemandangan di sekitar area luar lapangan memberikan respons yang berbeda saat ditanya mengenai identitas pemain tersebut.

"Oh, I don’t know, I was taking a picture of the view," kata seorang wanita berbaju putih dengan logat Amerika.

Ia meragukan tingkat popularitas dari pemain tenis yang baru saja berjalan melewati kerumunan penonton tersebut.

"They can’t have been that famous, though." kata wanita berbaju putih tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author