Misi Dagang Jawa Timur Riau Raih Transaksi Rp1 Triliun
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Riau berhasil membukukan komitmen transaksi sebesar Rp1.066.031.400.000 dalam acara Misi Dagang dan Investasi di Ballroom Hotel Novotel Pekanbaru, Rabu (8/7/2026), dilansir dari Detikcom.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung kegiatan yang dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi tersebut, guna memperkuat rantai pasok antardaerah dan integrasi pasar domestik.
Nilai transaksi tahun ini melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan kegiatan serupa pada 5 Maret 2020 di Pekanbaru yang mencatatkan angka Rp362,12 miliar dari 51 transaksi dagang.
Pencapaian total komitmen transaksi Rp1,066 triliun tersebut terbagi atas penjualan dari Jawa Timur senilai Rp704.881.400.000 dan pembelian oleh Provinsi Riau sebesar Rp361.150.000.000.
Jawa Timur memasarkan berbagai komoditas unggulan seperti olahan daging, susu, rokok, beras, cabe, bawang, pakan ikan, hingga benur, sementara Riau menyuplai udang vaname, arang tempurung kelapa, kelapa jambul, serta pulp.
Khofifah menjelaskan bahwa agenda di Pekanbaru ini merupakan pelaksanaan misi dagang kelima yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sepanjang tahun 2026.
"Untuk tahun 2026 ini merupakan misi dagang yang kelima. Yang selalu kami bangun adalah penguatan kemitraan antarprovinsi. Karena itu kami terus membawa semangat tumbuh bersama, maju bersama, berkembang bersama, dan sejahtera bersama," ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, perdagangan antarwilayah berperan sebagai fondasi penting integrasi ekonomi nasional karena setiap daerah memiliki keunggulan dan kebutuhan yang saling melengkapi.
"Misi dagang ini bukan sekadar forum pertemuan antara penjual dan pembeli. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk mempertemukan potensi dan kebutuhan kedua daerah, memperluas jejaring usaha, memperkuat rantai pasok antardaerah, serta membangun kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan," kata Khofifah.
Melalui forum ini, pemerintah memfasilitasi pertemuan wilayah produsen komoditas dengan wilayah yang membutuhkan pasokan guna memotong rantai distribusi produk dalam negeri.
"Kita ingin mempertemukan daerah yang memiliki komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan, memperpendek rantai distribusi, memperluas pasar produk unggulan, sekaligus memperkuat penggunaan produk dalam negeri. Inilah esensi dari Misi Dagang yang terus kita bangun," tegas Khofifah.
Tercatat hubungan ekonomi kedua wilayah ini saling melengkapi, di mana hampir 99 persen kebutuhan pulp industri di Jawa Timur dipasok langsung dari Provinsi Riau.
"Kebutuhan pulp di Jawa Timur sangat tinggi. Hampir 99 persen kebutuhan pulp Jawa Timur dipasok dari Provinsi Riau. Karena itu secara perdagangan kita memang masih mengalami defisit terhadap Riau. Namun kondisi ini justru menunjukkan kuatnya keterhubungan ekonomi kedua provinsi sekaligus besarnya peluang untuk terus memperluas perdagangan dua arah yang semakin seimbang," jelas Khofifah.
Dari sepuluh transaksi terbesar, kerja sama PT Kharim Mandiri Indonesia asal Kediri dengan PT Unggas Riau Perkasa asal Kampar mencatatkan nilai tertinggi mencapai Rp202,196 miliar per tahun.
"Transaksi yang terjadi menunjukkan semakin kuatnya hubungan ekonomi antara Jawa Timur dan Riau. Forum business matching tidak hanya mempertemukan kebutuhan pasar dengan potensi produksi masing-masing daerah, tetapi juga membuka peluang investasi dan kemitraan bisnis jangka panjang yang diharapkan semakin memperkuat rantai pasok nasional," tegas Khofifah.
Gubernur Jatim juga memaparkan pertumbuhan ekonomi provinsinya pada Triwulan I Tahun 2026 yang tumbuh 5,96 persen secara tahunan, di atas pertumbuhan nasional.
"Kondisi ini menunjukkan kuatnya keterhubungan ekonomi Jawa Timur dan Riau sekaligus besarnya ruang untuk memperluas perdagangan dua arah secara lebih beragam dan seimbang. Melalui Misi Dagang ini, kita ingin memperkuat sinergi perdagangan, membuka peluang investasi, dan membangun kemitraan usaha yang berkelanjutan," jelas Khofifah.
Selain interaksi ekonomi, kegiatan ini turut menampilkan wastra khas dari kedua provinsi sebagai simbol eratnya persaudaraan dan kolaborasi lintas sektor.
"Ini adalah cara kami merajut Indonesia, cara kami menjahit Nusantara, sehingga tidak ada yang tertinggal. Kita ingin maju bersama, tumbuh bersama, berkembang bersama, dan sejahtera bersama," ungkap Khofifah.
Secara kumulatif pada periode 2019-2026, Pemprov Jatim telah menggelar 52 kali misi dagang dalam negeri dengan total nilai komitmen transaksi mencapai Rp40,21 triliun.
"Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa produk unggulan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi, baik di pasar domestik maupun global. Semangat kolaboratif ini harus terus kita perkuat bersama," ujar Khofifah.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penandatanganan sejumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara perangkat daerah serta organisasi dunia usaha dari kedua provinsi.
"Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur kami menyampaikan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Provinsi Riau, seluruh pelaku usaha, Kadin, HIPMI, IWAPI, Bank Indonesia, OJK, BPS, BUMD, dan seluruh pihak yang telah bersinergi menyukseskan misi dagang ini. Mudah-mudahan kolaborasi ini terus berkembang, tidak hanya di sektor ekonomi dan perdagangan, tetapi juga di berbagai sektor pembangunan lainnya sehingga semakin memperkuat kemitraan antara Jawa Timur dan Riau," pungkas Khofifah.
Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi menyatakan optimisme bahwa agenda kerja sama ini akan memperluas jenis komoditas dan membuka peluang investasi baru.
"Melalui Misi Dagang ini, kami optimistis hubungan ekonomi Jawa Timur dan Riau akan semakin erat, tidak hanya melalui peningkatan nilai transaksi perdagangan, tetapi juga melalui perluasan jenis komoditas, bertambahnya pelaku usaha yang terlibat, terbukanya peluang investasi baru, serta terbangunnya kemitraan usaha yang berkelanjutan demi mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua provinsi," pungkas Syahrial Abdi.