Konflik Timur Tengah Memanas IHSG dan Bursa Asia Melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan sebesar 1,89 persen ke level 5.873 pada perdagangan hari Rabu (8/7/2026) seiring dengan memanasnya kembali situasi geopolitik di Timur Tengah. Penurunan ini sejalan dengan jatuhnya bursa saham di kawasan Asia, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengumumkan berakhirnya kesepakatan damai sementara dengan Iran. Pihak AS juga melancarkan serangan terhadap Iran serta mencabut pengecualian izin penjualan minyak negara tersebut.
Data perdagangan menunjukkan Indeks LQ45 ikut merosot 2 persen ke posisi 582,88. Sepanjang hari, IHSG bergerak menyentuh posisi terendah di level 5.872 dan sempat mencapai level tertinggi di posisi 5.984. Volume transaksi tercatat mencapai 22,69 miliar saham dengan nilai transaksi Rp10,54 triliun dari 1,97 juta kali perdagangan.
Sektor barang baku, properti, dan konsumen non-primer menjadi motor utama pelemahan dengan penurunan masing-masing sebesar 4,35 persen, 2,68 persen, dan 2,49 persen. Saham PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) anjlok 14,98 persen, disusul PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND) dan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) yang sama-sama turun 14,29 persen.
Kondisi zona merah juga melanda bursa Asia lainnya, dipimpin oleh KOSDAQ Korea Selatan yang ambles 5,56 persen dan KOSPI sebesar 5,35 persen. Di Jepang, NIKKEI 225 melemah 2,11 persen dan TOPIX turun 1,37 persen, sementara bursa China seperti Shenzhen Comp., CSI 300, dan Shanghai Composite terkoreksi masing-masing 1,97 persen, 0,77 persen, dan 0,49 persen. SENSEX India dan SETI Thailand juga melemah 2,05 persen dan 1,74 persen.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasar energi domestik makin nyata setelah harga minyak mentah Brent melonjak 9 persen menjadi US$79 per barel. Bersamaan dengan itu, indeks dolar AS menguat ke posisi 101,133 karena dicari investor sebagai aset aman.
Ketegangan geopolitik baru ini dinilai merusak stabilitas yang sebelumnya sempat diyakini oleh para pelaku pasar global terkait deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Pernyataan Trump tersebut “menandai keretakan paling serius sejauh ini terhadap kesepakatan yang memang telah mulai melemah dalam beberapa pekan,” papar Violeta Todorova, Senior Research Analyst di Leverage Shares, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Situasi ini memicu kekhawatiran pasar yang lebih luas mengenai tekanan inflasi global dan potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
“Pasar sebelumnya menganggap nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang disepakati pada Juni lalu sebagai dasar yang kuat bagi deeskalasi konflik. Namun, optimisme tersebut saat ini amat sangat tampak rapuh,” tambahnya.