Bank Indonesia Sepakati Lima Langkah Koordinasi Fiskal dan Moneter
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan adanya lima langkah strategis hasil koordinasi dengan pemerintah terkait kebijakan moneter dan fiskal sepanjang semester I-2026 dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI pada Rabu (8/7/2026). Pertemuan tersebut beragenda pembahasan laporan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I 2026 serta prognosis untuk sisa tahun berjalan, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz. "Terdapat lima langkah koordinasi fiskal dan moneter sepanjang semester I-2026 dan akan berlanjut seterusnya," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Langkah awal yang berjalan sejak Januari 2026 berupa sinkronisasi program moneter dengan rencana penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) domestik maupun valuta asing.
"Kami juga sudah menyepakati penerbitan SBN dalam dan luar negeri, sinkron dengan program moneter kami," tutur Perry Warjiyo. Upaya kedua berfokus pada penjagaan likuiditas sektor perbankan dan pasar uang, di mana pertumbuhan uang primer M0 diklaim membaik hingga menyentuh level dua digit.
Selanjutnya, stabilitas nilai tukar rupiah dijaga melalui kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN demi mendukung kesehatan fiskal negara. Langkah ketiga ini berdampak pada perbaikan arus modal asing, di mana pasar keuangan mencatat aliran masuk (inflow) sebesar US$7,98 miliar pada kuartal II, setelah sebelumnya mengalami aliran keluar (outflow) senilai US$1,47 miliar pada kuartal I 2026.
Data kuartal II merinci masuknya dana asing sebesar US$8,48 miliar melalui SRBI dan US$1,78 miliar lewat SBN, meskipun pasar saham masih mencatat outflow sebesar US$2,3 miliar. Guna mempertahankan minat investor asing terhadap SBN di tengah kenaikan suku bunga, bank sentral berkomitmen memberikan tambahan remunerasi pada saldo rekening pemerintah di Bank Indonesia. "Selama ini kami kasih remunerasi (kepada pemerintah) 80% dari BI Rate, kami akan meningkatkan BI Rate plus sekian untuk mengkompensasi kenaikan beban bunga karena suku bunga SBN akan naik. Kami akan tanggung, jadi ini win-win solution," papar Perry Warjiyo.
Skema kompensasi tersebut dirancang agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga melalui aliran modal masuk tanpa membebani pembiayaan utang pemerintah.
"Jadi kami pastikan pemerintah BEP (break even point atau balik modal)," tegas Perry Warjiyo. Sebagai langkah terakhir, Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah mengintensifkan koordinasi pengendalian inflasi untuk memitigasi dampak kenaikan harga komoditas global.