Rupiah Melemah Terbatas Rp17.999 per Dolar AS Tertekan Isu Frontier Market

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup sesi perdagangan Rabu (8/7/2026) dengan pelemahan terbatas sebesar 0,09 persen. Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang Garuda kini parkir di posisi Rp17.999/US$ setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp18.002/US$ pada perdagangan siang. Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh kondisi pasar saham yang memburuk setelah munculnya peringatan dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI).

Lembaga tersebut memperingatkan adanya potensi penurunan kasta bagi bursa saham Indonesia menjadi pasar frontier (frontier market) pada tahun 2027 mendatang.

Sinyal negatif dari S&P DJI ini memperpanjang rangkaian peringatan yang menerpa pasar keuangan Indonesia sejak awal semester pertama tahun ini. Prospek pertumbuhan ekonomi domestik saat ini dinilai terbebani oleh defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, serta defisit fiskal.

Sentimen negatif ini tidak hanya memukul rupiah, tetapi juga merembet ke pasar Surat Utang Negara (SUN) yang mengalami aksi jual oleh investor. Kondisi tersebut ditandai dengan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di hampir seluruh tenor.

Untuk tenor acuan 5 tahun, yield melonjak sebesar 6,5 basis poin (bps) menjadi 7,19 persen, sedangkan tenor 10 tahun naik 4,8 bps ke level 7,23 persen. Terkait kondisi ini, UBS menilai bahwa valuasi obligasi Indonesia sebenarnya belum dapat dikategorikan mahal. Imbal hasil riil saat ini tercatat berada di sekitar persentil ke-25 jika dibandingkan dengan rekam jejak historis selama 15 tahun terakhir.

Selisih yield nominal obligasi Indonesia-AS untuk tenor 10 tahun maupun selisih terhadap negara emerging markets berimbal hasil tinggi juga masih tergolong rendah dari rata-rata historis.

"Analisis kami juga menunjukkan bahwa premi risiko valuta asing cenderung meningkat ketika defisit basic balance membesar," sebut UBS dalam catatannya. Meskipun imbal hasil riil cukup tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, UBS menyarankan pelaku pasar untuk bersikap selektif. Investor sebaiknya menunggu yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun menyentuh kisaran 7,5 persen atau lebih tinggi sebelum menambah eksposur.

Pergerakan Mata Uang Regional Asia

Di kawasan regional, pergerakan mata uang Asia terpantau bervariasi dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS.

Rupee India memimpin pelemahan dengan koreksi tajam sebesar 0,55 persen, diikuti oleh baht Thailand, yen Jepang, peso Filipina, ringgit Malaysia, rupiah, dolar Singapura, dan yuan China. Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi mata uang yang paling kuat setelah menguat 0,49 persen ke posisi KRW1.511/US$.

Apresiasi won ditopang oleh langkah pemerintah setempat yang berjanji untuk memperketat pemantauan terhadap pergerakan mata uang domestik mereka. Dolar Taiwan juga berhasil menguat untuk kali pertama dalam enam sesi perdagangan terakhir dan sempat bergerak ke posisi TWD31.963/US$ seiring indikasi pemulihan aliran dana asing masuk.

Sementara itu, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia sempat menguat 0,14 persen di level 101,16, sebelum akhirnya terpangkas ke posisi 101,08.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author