IHSG dan Bursa Asia Melemah Imbas Ketegangan Selat Hormuz

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mayoritas bursa saham di Asia mengalami pelemahan secara kompak pada perdagangan siang hari ini. Sentimen negatif ini dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), dilansir dari Bloomberg Technoz, IHSG mengakhiri Sesi I dengan penurunan sebesar 1,11% dibandingkan hari sebelumnya. Koreksi ini membawa indeks parkir di level 5.920.

Sepanjang sesi pertama, IHSG sempat merosot hingga menyentuh level terendah di 5.897, sementara penguatan tertingginya tertahan di posisi 5.984. Aktivitas perdagangan mencatat volume sebanyak 12,25 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp5,22 triliun serta frekuensi mencapai 1,1 juta kali transaksi.

Di kawasan Asia, indeks KOSDAQ di Korea Selatan mencatatkan pelemahan terdalam. Tren negatif ini juga diikuti oleh indeks KOSPI, NIKKEI 225, SENSEX, TOPIX, SETI, Shenzhen Comp., TW Weighted Index, dan KLCI.

Tekanan pada pasar modal Asia dipicu oleh situasi keamanan di Timur Tengah yang kembali memanas. Iran dilaporkan telah melepaskan minimal dua rudal ke arah kapal komersial yang sedang berlayar di Selat Hormuz pada Senin malam waktu setempat.

Menurut laporan dari Axios, tindakan Teheran ini dipandang sebagai upaya untuk menguji poin-poin dalam draf kesepakatan akhir dengan Amerika Serikat (AS). Klausul tersebut mewajibkan penghentian serangan selama kedua negara melakukan negosiasi perdamaian.

Lembaga Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) membenarkan adanya insiden tersebut pada Senin. UKMTO menyatakan telah menerima informasi terkait sebuah kapal tanker yang terkena hantaman proyektil misterius di area 15 kilometer sebelah timur wilayah Limah, Oman.

Dampak Terhadap Harga Energi Dunia

Insiden penembakan ini terjadi bersamaan dengan persiapan Presiden AS Donald Trump untuk bertolak menuju Ankara, Turki. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menghadiri Pertemuan Puncak (KTT) NATO, di mana konflik AS-Iran diprediksi menjadi agenda bahasan utama.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai jangka panjang antara AS dan Iran diperkirakan akan menghadapi hambatan yang berat.

Eskalasi di wilayah tersebut langsung memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga komoditas energi ini kembali menimbulkan kekhawatiran global terhadap potensi lonjakan angka inflasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author