Kejaksaan Prancis Selidiki Dugaan Rasisme Senator Paraguay ke Mbappe

Share

Kejaksaan Prancis resmi membuka penyelidikan atas dugaan serangan rasisme yang dilakukan oleh Senator Paraguay, Celeste Amarilla, terhadap kapten tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, pada Rabu (08/07). Dilansir dari Bloombergtechnoz, penyelidikan ini dimulai setelah Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) mengadukan unggahan Amarilla di media sosial kepada unit khusus penanganan ujaran kebencian. Langkah hukum tersebut diambil menyusul pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 yang mempertemukan Prancis dan Paraguay.

Fokus penyelidikan mengarah pada pelanggaran berupa penghinaan bermotif rasial atau hasutan kebencian serta kekerasan. Jika tuntutan tersebut terbukti di pengadilan, pelaku terancam hukuman maksimal satu tahun penjara dan denda senilai 45 ribu euro atau sekitar Rp925 juta.

Kasus ini memicu respons keras dari Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB atau OHCHR melalui juru bicaranya, Thameen Al-Kheetan. Pihak PBB menilai pernyataan Amarilla yang merendahkan martabat Mbappe sangat tercela dan merefleksikan persoalan diskriminasi yang masih serius di dunia olahraga.

"Negara dan organisasi olahraga harus secara aktif berupaya mencegah tindakan rasisme dan segala bentuk diskriminasi lainnya. Mereka juga harus memastikan adanya mekanisme akuntabilitas yang independen dan efektif," kata Thameen Al-Kheetan, Juru Bicara OHCHR. Al-Kheetan menambahkan bahwa para pejabat publik memegang tanggung jawab besar untuk menentang diskriminasi. Selain lembaga negara, ia juga menyoroti peran platform digital dalam mengontrol penyebaran konten negatif.

"Perusahaan media sosial juga memiliki tanggung jawab untuk mencegah dan mengatasi diskriminasi rasial dan pelecehan xenofobia di platform mereka, sesuai dengan standar hak asasi manusia internasional," tambah Thameen Al-Kheetan, Juru Bicara OHCHR. Dugaan rasisme ini bermula ketika Amarilla mengunggah komentar setelah Paraguay dikalahkan Prancis. Senator tersebut menyebut Mbappe sebagai orang Kamerun terjajah yang berpura-pura menjadi warga Prancis, yang langsung memicu kecaman luas di dunia maya.

Mbappe membalas unggahan tersebut dengan menyatakan bahwa Amarilla tidak pantas menduduki jabatan publik karena telah mencoreng nama negaranya sendiri. Menurut kapten Prancis tersebut, komentar sang senator justru mengalihkan perhatian publik dari performa timnas Paraguay. Setelah mendapatkan tekanan internasional, Amarilla menghapus unggahannya dan merilis surat terbuka dalam bahasa Prancis dan Spanyol.

Kendati menyatakan penyesalan, ia tetap mengkritik sikap Mbappe di lapangan dan menuntut sang pemain meminta maaf atas responsnya. Pemerintah Paraguay langsung menyatakan sikap resmi dengan menegaskan bahwa komentar Amarilla merupakan opini pribadi. Pernyataan tersebut dipastikan tidak mewakili pandangan pemerintah maupun masyarakat Paraguay secara keseluruhan.

Dukungan moral bagi Mbappe juga mengalir dari internal pemerintahan Prancis, termasuk dari jajaran petinggi negara. Presiden Prancis Emmanuel Macron turut memberikan pembelaan secara terbuka melalui sebuah pernyataan resmi di media sosial.

"Gol lain untuk Kylian Mbappé. Kali ini melawan rasisme," kata Emmanuel Macron, Presiden Prancis. Macron menegaskan bahwa nilai-nilai martabat, rasa hormat, dan persaudaraan antarbangsa harus tetap dijunjung tinggi di ruang publik. Kasus ini kini berada di bawah penanganan otoritas hukum Prancis untuk menentukan proses peradilan selanjutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author