Mengulik Sejarah Bakpia Yogyakarta yang Lahir dari Akulturasi Budaya
Bakpia kini menjadi salah satu kuliner ikonik dari Yogyakarta yang selalu diburu wisatawan. Di balik popularitasnya, camilan tradisional ini menyimpan sejarah panjang hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa sejak tahun 1940-an. Dilansir dari Detik Food, kudapan ini awalnya berasal dari China dan sudah ada sejak tahun 1930.
Seorang perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok kemudian membawa resep tersebut ke Indonesia. Kwik Sun Kwok memulai usahanya dengan menyewa tempat milik Niti Gurnito di Kampung Suryowijayan, Yogyakarta. Berdasarkan informasi dari situs Dinas Kebudayaan Yogyakarta, bisnis ini dirintis pada era 1940-an hingga berkembang pesat.
Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Niti Gurnito. Pada masa itu, produknya dikenal luas dengan nama Bakpia Tamansari sebelum akhirnya populer sebagai Bakpia Niti Gurnito.
Nama bakpia sendiri berasal dari dialek Hokkian, yaitu tou luk pia. Secara harfiah, istilah tersebut memiliki arti kue atau roti yang memiliki isian daging. Pada awal kemunculannya, pembuatan kue ini menggunakan olesan minyak babi. Produsen kemudian melakukan penyesuaian agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat Yogyakarta yang mayoritas beragama Islam.
Perkembangan Kawasan Bakpia Pathuk
Selain wilayah Tamansari, kawasan Pathuk juga menjadi pusat produksi yang sangat terkenal. Pelopor di kawasan ini adalah Liem Bok Sing, kerabat Kwik Sun Kwok yang ikut mempelajari cara pembuatan kue tersebut.
Liem Bok Sing memulai bisnisnya sejak tahun 1948. Pada tahun 1955, keluarganya pindah ke Jalan Aipda KS Tubun No. 75 di kawasan Pathuk dan melanjutkan produksi di lokasi baru tersebut.
Sejak momen itu, nama Bakpia Pathuk mulai merajai industri kuliner di Yogyakarta. Para pengusaha di Kampung Pathuk kemudian menggunakan nomor rumah produksi mereka sebagai merek dagang, seperti Bakpia Pathok 25 dan Bakpia Patuk 75.
Evolusi Varian Rasa Dulu dan Sekarang
Varian awal jajanan ini hanya memiliki satu rasa saja, yaitu isi kacang hijau tumbuk. Karakteristik aslinya cenderung tidak terlalu manis namun memiliki tekstur yang cukup berserat. Kulit luarnya juga berkembang dalam dua karakteristik, yakni varian kering dan basah. Seiring perkembangan zaman, produsen mulai berinovasi menciptakan rasa cokelat, keju, durian, hingga berbagai isian modern lainnya.
Kreasi masa kini bahkan menawarkan tekstur yang super lembut dengan lapisan kulit yang tipis. Selain itu, muncul pula varian bakpia kukus yang memiliki tekstur mirip bolu dan menjadi buah tangan yang sangat populer. Saat ini, penganan ini dengan mudah dapat ditemukan di pusat keramaian wisatawan seperti kawasan Malioboro. Beberapa merek populer yang banyak dijumpai antara antara lain Bakpia Pathok 25, Bakpia Mutiara, Bakpiaku, Bakpia Juwara Satoe, hingga Bakpia Kukus Tugu Jogja.