PLN Terapkan Pemadaman Bergilir di Kalbar Akibat Gangguan Mesin
PT PLN (Persero) menerapkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kota Pontianak dan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, sejak Jumat (3/7/2026) akibat gangguan mesin pembangkit Independent Power Producer (IPP). Kebijakan ini memicu sorotan dari Forum Komunikasi (Forkom) Damkar Swasta Kalbar karena kondisi listrik yang padam dan menyala tidak menentu meningkatkan risiko kebakaran akibat korsleting jaringan tua.
Manajer Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Kalimantan Barat, Mukhlis Zarkasih menjelaskan bahwa suhu lingkungan yang tinggi akibat cuaca panas ekstrem menyebabkan penurunan kapasitas produksi mesin pembangkit (derating). Pihaknya menegaskan situasi ini bukan disebabkan oleh kekurangan pasokan batu bara ataupun energi primer karena sistem kelistrikan Kalbar sebenarnya masih memiliki surplus daya.
"Kami terus berupaya mempercepat proses pemulihan. Mohon pengertian masyarakat atas ketidaknyamanan ini," ujar Mukhlis Zarkasih, Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Kalbar.
Untuk menjaga keandalan sistem selama pemulihan, PLN membagi jadwal pemadaman menjadi tiga sif yang masing-masing berlangsung sekitar lima jam. Mukhlis menambahkan bahwa pengaturan sistem ini sangat penting demi mencegah perluasan area padam.
"Karena itu, dilakukan pengaturan sistem agar tidak terjadi pemadaman yang lebih luas," kata Mukhlis Zarkasih.
Langkah penanganan juga berjalan di wilayah lain seperti Kota Singkawang yang terdampak sejak Kamis (2/7/2026) dengan durasi pemadaman mencapai lima hingga tujuh jam di beberapa lokasi. Pihak PLN berkomitmen mendahulukan pasokan listrik untuk fasilitas publik yang krusial.
"Proses perbaikan telah dilakukan sejak Kamis (2/7), namun pasokan listrik belum dapat kembali normal sehingga masih diperlukan pemadaman bergilir dengan durasi maksimal sekitar lima jam di beberapa lokasi," kata Made Hary Palguna, Manager PT PLN (Persero) UP3 Singkawang dilansir dari Antara.
Di sisi lain, ketidakstabilan pasokan daya ini memicu kekhawatiran dari petugas pemadam kebakaran di lapangan. Berdasarkan data damkar dan kepolisian, sedikitnya terjadi tiga peristiwa kebakaran di Pontianak pada Sabtu (4/7/2026) dan Minggu (5/7/2026), termasuk rumah tinggal dan industri tahu rumah tangga yang diduga kuat dipicu oleh arus pendek saat listrik kembali menyala.
"Kalau sering terjadi pemadaman bergilir seperti sekarang ini memang dampaknya ada. Sekarang hampir setiap hari ada kebakaran. Coba pada kondisi normal, tidak seperti ini," kata Eddy Zulkarnaen, Sekretaris Forkom Damkar Swasta Kalbar kepada detikKalimantan.
Eddy menambahkan bahwa risiko fatal justru muncul dari kondisi instalasi listrik rumah tangga yang sudah tua dan tidak pernah diperbarui, padahal beban penggunaan elektronik terus bertambah. Ketika arus listrik berulang kali padam dan mengalir kembali dalam kondisi cuaca panas, kerentanan instalasi tersebut semakin tinggi.
"Kalau kondisi hidup-mati listrik terus menerus, apalagi cuaca panas, potensi kebakaran memang meningkat. Ini berdasarkan pengalaman saya selama puluhan tahun sebagai petugas pemadam kebakaran," ujarnya.
Menurut Eddy, tumpukan material mudah terbakar di sekitar sambungan kabel yang longgar dapat memicu percikan api menjadi kebakaran besar. Ia pun meminta warga segera meremajakan kabel bangunan mereka.
"Rumah-rumah sekarang sudah banyak tambahan AC, kulkas, kipas angin, bahkan ruangan bertambah, tetapi instalasi listriknya tidak pernah diperbarui. Kabel sudah tua, sambungan longgar, lalu ada material yang mudah terbakar. Sedikit percikan saja bisa menimbulkan api," jelas Eddy Zulkarnaen.
Guna meminimalkan dampak ketidakpastian padamnya arus, masyarakat Pontianak dapat memantau jadwal penanganan secara real-time lewat aplikasi digital resmi. Melalui fitur Cek Padam Sekitar Saya di PLN Mobile, pengguna bisa memeriksa peta sebaran wilayah terdampak secara mandiri berdasarkan pembaruan langsung dari sistem pemantauan PLN.